Kenormalan atau Keabnormalan Baru?
INDEX

BISNIS-27 450.793 (-2.26)   |   COMPOSITE 5144.05 (-15.82)   |   DBX 982.653 (2.46)   |   I-GRADE 141.194 (-0.62)   |   IDX30 430.883 (-2.17)   |   IDX80 114.327 (-0.59)   |   IDXBUMN20 295.098 (-2.05)   |   IDXG30 119.385 (-0.73)   |   IDXHIDIV20 382.257 (-1.97)   |   IDXQ30 125.574 (-0.78)   |   IDXSMC-COM 221.901 (-0.43)   |   IDXSMC-LIQ 259.068 (-1.66)   |   IDXV30 107.621 (-1.14)   |   INFOBANK15 842.759 (-2.22)   |   Investor33 376.322 (-1.83)   |   ISSI 151.265 (-0.8)   |   JII 550.5 (-4.84)   |   JII70 187.95 (-1.54)   |   KOMPAS100 1026.39 (-5.14)   |   LQ45 794.213 (-3.71)   |   MBX 1420.94 (-5.57)   |   MNC36 281.737 (-1.36)   |   PEFINDO25 284.937 (-1.16)   |   SMInfra18 242.709 (-2.12)   |   SRI-KEHATI 318.969 (-1.57)   |  

Kenormalan atau Keabnormalan Baru?

Opini: Henrykus Sihaloho
Penulis adalah doktor lulusan IPB yang sejak 1990-sekarang menjadi dosen Universitas Katolik Santo Thomas, Medan.

Jumat, 12 Juni 2020 | 08:00 WIB

Seorang perwira tinggi seperti Letjen TNI Doni Monardo, niscaya tidak asing dengan peribahasa Latin yang berbunyi, “Si vis pacem, para bellum” (“Jika Anda menginginkan damai, bersiaplah perang”). Menurut penulis, untuk menangani covid-19, peribahasa itu harus dibalik menjadi, “Jika Anda ingin memerangi Covid-19, berdamailah dengannya.”

Menurut pikiran penulis yang sederhana, mungkin ide vaksinasi berangkat dari gagasan, “kalau mau memerangi virus, berdamailah (lebih dulu) dengannya.” Karena itulah, untuk bisa berdamai dengan virus, tubuh kita disuntik dengan virus yang sudah dilemahkan dalam takaran dan frekuensi yang terukur sehingga tidak sampai membahayakan kita.

Mengingat vaksin Covid-19 sepertinya belum ditemukan hingga setahun ke depan dan ketahanan ekonomi kita mungkin tidak sampai setahun, kondisi ini memunculkan ide berdamai dengan Covid-19.

Sebelum tulisan ini membahas keputusan Menhub yang mengizinkan angkutan umum beroperasi mulai 7 Mei lalu, penulis mari kita melihat ke sejumlah klaster. Penulis membagi klaster ke dalam dua kategori, klaster berisiko tinggi dan klaster berisiko rendah.

Klaster berisiko tinggi datang dari tempat paparan virus yang kuat dengan takaran yang banyak, berkali-kali, dan berdurasi lama pada ruang yang relatif sempit, dan menjadi berisiko sangat tinggi pada ruang yang tertutup atau hampir tertutup. Contoh klaster seperti ini adalah tabligh akbar di Masjid Sri Petaling, Malaysia. Kegiatan yang berlangsung dari 27 Februari-1 Maret 2020 membuat para jamaah tidur di tenda-tenda di luar masjid. Pemerintah Malaysia mengonfirmasi, dari 673 kasus Covid-19 di sana, hampir dua pertiganya terkait dengan pertemuan empat hari itu.

Klaster yang sejenis adalah klaster Bandung dan Gowa. Klaster Bandung terjadi pascaseminar keagamaan yang digelar di Hotel Lembang Asri, Lembang, Kabupaten Bandung Barat pada 3-5 Maret 2020. Sebanyak 226 dari 637 jemaat yang dites rapid dinyatakan positif. Menyangkut klaster Gowa, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyatakan, 68% dari 27 kematian di Kalsel berasal dari klaster Gowa, Sulsel. Klaster ini terjadi setelah acara religius massal ijtima ulama pada 19-27 Maret 2020.

Bagaimana dengan klaster berisiko rendah? Klaster ini datang dari tempat dengan paparan virus yang relatif tidak ganas, bertakaran sedikit, dan frekuensinya sekali atau lebih (namun berjarak) pada ruang yang relatif luas, terbuka, dan longgar. Penulis meyakini, klaster Depok sebenarnya hampir masuk dalam kategori ini.

Pembelajaran
Ada sejumlah pelajaran yang bisa dipetik dari kedua klaster. Pertama, meskipun tampak spekulatif, berangkat dari pola deduksi (pembelajaran dari sejumlah kasus pada klaster berisiko tinggi), kita bisa membuat hipotesis bahwa paparan virus yang kuat, takaran yang banyak, frekuensi lebih dari sekali yang dekat, durasi yang lama, dan ketertutupan ruang menyebabkan sejumlah orang positif terpapar virus corona. Mengambil contoh klaster Bandung, paparan kuman yang kuat datang dari pendeta yang baru pulang dari luar negeri, takaran virus yang banyak diperoleh pendeta dalam perjalanannya yang panjang, frekuensi pertemuan sebelumnya yang mungkin diikuti pendeta lebih dari sekali, durasi 3 hari, dan ruang yang relatif tertutup (diadakan di hotel), mengakibatkan sejumlah jemaat yang hadir tertular, dan 5 orang kemudian meninggal dunia.

Kedua, masih dengan pendekatan deduksi, pelajaran lain yang dapat kita petik adalah bahwa dengan penerapan protokol kesehatan yang baik, membuka peluang bagi kita berdamai dengan Covid-19 dan bisa mengarah pada terciptanya herd immunity. Dengan kata lain, bila kita bisa berdamai dengan Covid-19, proses vaksinasi alami sedang berlangsung di Indonesia. Bila itu terjadi, kita sudah memasuki kenormalan baru.

Ketiga, diinspirasi oleh salah satu nasihat Presiden Joko Widodo pascaadu panco dengan putranya, Kaesang, pada empat tahun silam (2 Juli 2016), kita membutuhkan kesabaran (mungkin dalam waktu yang tidak lama lagi) untuk menguji pola deduksi ini benar atau tidak.

Untuk membuktikan kebenaran pola deduksi ini, penulis meminta kesediaan Menteri Perhubungan (Menhub) untuk menganulir kebijakannya yang mengizinkan angkutan umum yang tertutup tanpa sirkulasi udara (seperti pesawat terbang), atau hampir tertutup seperti kereta api (utamanya yang berjarak tempuh jauh) beroperasi. Penulis khawatir, bila Menhub menolak, alih-alih Indonesia memasuki kenormalan baru, malah keabnormalan baru yang terjadi.

Revisi atas kebijakan Menhub bisa menjadi batu ujian bagi pemerintah mengeluarkan kebijakan yang mengatur kenormalan baru di bidang-bidang kehidupan lain. Pemerintah jangan pernah berpretensi dalam waktu dekat (walau tidak bersamaan) untuk mengatur kenormalan baru di semua bidang kehidupan, termasuk bidang keagamaan, kebudayaan (seperti ritus adat dan perkawinan), dan pendidikan formal/nonformal (seperti kursus dan pelatihan).

Khusus pendidikan (tempat kebanyakan generasi muda kita mengembangkan diri), biarkanlah ia menjadi gerbong terakhir yang menerapkan kenormalan baru. Bila perlu, tidak ada salahnya Kemdikbud menunda tahun ajaran baru hingga enam bulan mendatang seperti tahun 1978.


BAGIKAN






TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS