Keluarga, Haluan Peradaban Bangsa
INDEX

BISNIS-27 434.176 (-7.64)   |   COMPOSITE 4917.96 (-75.2)   |   DBX 928.196 (-4.7)   |   I-GRADE 130.286 (-2.42)   |   IDX30 412.166 (-7.85)   |   IDX80 107.727 (-2.08)   |   IDXBUMN20 269.265 (-5.95)   |   IDXG30 115.773 (-2.53)   |   IDXHIDIV20 368.481 (-6.65)   |   IDXQ30 120.761 (-2.3)   |   IDXSMC-COM 210.292 (-3.36)   |   IDXSMC-LIQ 235.988 (-6.09)   |   IDXV30 101.893 (-2.12)   |   INFOBANK15 773.605 (-13.29)   |   Investor33 359.92 (-6.34)   |   ISSI 144.524 (-2.29)   |   JII 524.265 (-9.92)   |   JII70 177.451 (-3.41)   |   KOMPAS100 962.885 (-17.72)   |   LQ45 754.177 (-14.18)   |   MBX 1360.94 (-22.87)   |   MNC36 269.191 (-4.78)   |   PEFINDO25 256.961 (-5.33)   |   SMInfra18 232.003 (-3.35)   |   SRI-KEHATI 302.863 (-5.05)   |  

Keluarga, Haluan Peradaban Bangsa

Opini: Seto Mulyadi
Ketua Umum LPAI; Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma

Senin, 29 Juni 2020 | 08:00 WIB

Sebuah naskah yang dirilis International Federation for Family Development (IFFD) membuat saya tercenung. Dalam naskah itu tertulis: sebagai batu pijakan, keluarga memiliki peran penting dalam pembangunan. Keluarga merupakan penanggung jawab utama pendidikan dan sosialisasi anak. Keluarga pulalah yang menanamkan kesadaran ke dalam diri anak bahwa ia merupakan bagian dari tata nilai hidup berkewarganegaraan dan lekat dengan masyarakatnya.

Tulisan IFFD tersebut terbilang lebih maju daripada teori Abraham Maslow beberapa puluh tahun silam. Maslow, melalui Teori Aktualisasi Diri, menyebut keluarga sebagai pihak yang bertugas memenuhi kebutuhan mendasar anak. Dan kebutuhan mendasar yang dimaksud Maslow hanya sebatas pada makanan, tempat berteduh, perasaan aman, dan objek-objek pada tingkat individu.

Dengan kedudukan seperti yang dirumuskan IFFD tersebut, tak bisa dihindari, keluarga harus mendapat tempat istimewa dalam arah gerak pembangunan setiap negara dan bangsa. Termasuk Indonesia.

Wabah Covid-19 seperti yang sudah berlangsung sejak Februari lalu menghadirkan tantangan baru bagi keluarga. Keluarga secara tradisional ditandai, antara lain, oleh keberadaan anggota-anggotanya di bawah satu atap.

Namun, karena virus corona hingga beberapa segi merupakan pemantik yang bersifat memaksa, maka kebersamaan di bawah satu atap tersebut seiring perjalanan waktu justru menjadi permasalahan. Dampak pembatasan di berbagai tempat memang dialami oleh semua orang. Anak-anak, tak pelak, terkategorikan sebagai kelompok usia yang paling rentan. Tidak hanya risiko terpapar virus, kerentanan lainnya juga datang dari beragam gejolak psikis yang dialami oleh keluarga maupun orang tua sang anak sendiri.

Kemungkinan anak-anak mengalami malnutrisi, ketidakteraturan pola hidup, ketertinggalan akademik, dan menjadi sasaran pelampiasan ledakan emosional bukanlah sekadar ilusi. Lebih lagi di musim penyakit Covid-19 seperti sekarang ini, betapa Presiden Jokowi sendiri sudah mencanangkan “bersahabat dengan corona” sebagai tagline tentang pola hidup baru yang sepatutnya juga diwujudkan di dalam lingkup keluarga sebagai pola relasi dan pengasuhan yang ramah anak.

Peran Warga
Masalah semakin kompleks saat kedua orang tua juga mengalami sakit dan harus diisolasi di rumah sakit. Kisah di berbagai permukiman menyajikan gambaran nyata tentang bagaimana keluarga kini tampaknya mengalami perluasan cakupan. Keluarga adalah pilar utama yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan anak.

Ketika ayah dan ibu tidak memungkinkan menjalankan peran itu, anak-anak terpaksa tinggal di rumah dan terpisah dari orang tua mereka. Tetanggalah yang kemudian mengambil alih peran pengayom tersebut. Secara bergantian, warga memasok makanan siap santap kepada anak-anak itu. Warga sekitar pula yang secara berkala memeriksa kelayakan hidup anak-anak tersebut selama berminggu-minggu.

Sikap welas asih ini menumbuhkan ketangguhan tersendiri pada anak-anak. Jelas, diperlukan kepedulian sekaligus nyali di atas rata-rata bagi warga untuk dapat masuk ke kehidupan anak-anak. Pasalnya, tidak hanya kemungkinan anak-anak itu juga menderita penyakit tanpa gejala (sehingga berpotensi menular ke orang lain), anak-anak pun pada dasarnya membutuhkan waktu ekstra untuk dapat menumbuhkan kepercayaan pada orang lain.

Ketika tetangga sudah diterima untuk masuk ke dalam wilayah bahkan personal space anak, maka itulah momen puncak ketika warga berhasil menjelma sebagai keluarga. Terdukung sudah kata-kata bijak, bahwa belum sempurna akhlak seseorang sebelum ia bisa mencintai tetangga seperti mencintai keluarganya sendiri.

Pemandangan positif semacam demikian kembali menegaskan pentingnya keberadaan seksi perlindungan anak tingkat rukun tetangga (SPARTA) yang senantiasa dikampanyekan oleh Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI). Manfaat SPARTA terasa betul terlebih dalam situasi krisis seperti saat ini. Warga tidak lagi tergagap-gagap terlalu lama untuk mengambil alih sebagian peran orang tua, karena telah memiliki kesadaran dan kesanggupan untuk aktif dalam kegiatan perlindungan anak tingkat lokal.

Inilah fakta bahwa tetangga sejatinya merupakan elemen penting, bahkan tak terpisahkan, dalam sistem perlindungan anak. Dengan kata lain, dalam rumusan ecological approach, tetangga merupakan titik terdekat bagi anak setelah keluarga biologisnya yang seatap.

Realitas seperti ini selayaknya terakomodasi dalam regulasi terkait pengasuhan di Tanah Air. Dalam Peraturan Pemerintah tentang Pengasuhan, misalnya, pengasuhan serta-merta diembankan pada keluarga biologis si anak. Tentu ini tidak keliru. Namun dengan ketentuan tersebut, saat anak kehilangan orang tuanya, otoritas terkait akan langsung berfokus pada menemukan keluarga biologis yang akan menjadi sasaran relokasi anak. Proses relokasi sedemikian tidak menutup kemungkinan akan melipatgandakan tekanan stres pada diri anak sebagai konsekuensi hadirnya beban penyesuaian diri terhadap lingkungan baru anak.

Akan berbeda kiranya apabila Peraturan Pemerintah tentang Pengasuhan juga memuat ketentuan-ketentuan tentang posisi tetangga sebagai (pengganti) keluarga biologis. Ketentuan seperti itu niscaya akan menciptakan dorongan signifikan bagi otoritas berwenang untuk memberdayakan potensi warga sebagai salah satu pemangku kepentingan dalam perlindungan anak.

Hikmah
Memanfaatkan momentum Hari Keluarga Nasional, 29 Juni 2020 ini, saya ingin mengajak kita semua untuk memetik pelajaran mulia. Bahwa, sejatinya negara kita sudah sejak berpuluh tahun silam memiliki kesadaran akan pentingnya keluarga sebagai aset utama peradaban. Juga sudah sejak tempo doeloe sesungguhnya masyarakat memiliki inisiatif hidup berketetanggaan.

Keluarga dan tetangga, keduanya patut disandingkan dalam perlindungan anak pada lapis terdalam kehidupan masyarakat. Meminjam terminologi populer, dapatlah dikatakan bahwa dengan sinergi kedua pihak itulah program pembangunan keluarga dan perlindungan anak Indonesia diharapkan dapat berlangsung secara lebih terstruktur, sistematis, dan masif, bahkan radikal.

Keyakinan, bukan sekadar perhatian, akan vitalnya posisi keluarga tidak boleh tergoyahkan. Generasi emas hanya akan dapat dihasilkan apabila keluarga Indonesia tetap terjaga, baik lahir, batin, sosial, dan keimanan serta ketakwaannya. Ini bukan kalimat klise.

Discussion paper oleh Kimberly Eaton Hoagwood, profesor psikologi klinis dari Columbia University, dan para koleganya, memuat rangkaian kalimat yang sangat menginspirasi. Dengan tegas mereka mengatakan bahwa anak-anak melekat pada keluarga, dan keluarga melekat dengan masyarakat. Kebijakan maupun program yang ditujukan untuk memperkuat masyarakat dan keluarga akan mendukung perkembangan anak-anak dan--pada gilirannya--menyejahterakan negara. Agar itu dapat terwujud, kuncinya--menurut Hoagwood dkk--adalah collective efficacy.

Dalam konteks itu, collective efficacy menunjuk pada keguyuban antara keluarga, tetangga, dan masyarakat, yang termanifestasikan dalam keinginan untuk mengaktivasi kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi kepentingan bersama. Kohesi sosial semacam demikianlah yang akan menciptakan lingkungan yang aman dan menenteramkan.

Pembangunan fisik tentu sangat dibutuhkan. Namun itu saja tidak mencukupi. Agar semakin paripurna, kita perlu berkomitmen penuh pada sebutan-sebutan berikut ini.

Orang Barat mempunyai istilah home sweet home. Kiasan warisan kakek-nenek, rumahku istanaku. Di kalangan Muslim bahkan hidup ungkapan baiti jannati (rumahku surgaku).

Ketiganya, dengan intisari yang sama, patut terus digelorakan dengan sepenuh hati, sampai kapan pun. Dengan menempatkan keluarga Indonesia sebagai pangku kepentingan utama, seraya mengaktivasi kehidupan bertetangga dalam kegiatan perlindungan anak, bangsa ini akan memiliki haluan peradaban yang sangat jelas, bahwa semua ini “dari keluarga, oleh keluarga dan untuk keluarga”.

Semoga.


BAGIKAN




TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS