Jaga Keamanan, Korsel Bayar Militer AS US$ 924 juta

Jaga Keamanan, Korsel Bayar Militer AS US$ 924 juta
Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Kang Kyung-wha (kanan), berjabat tangan dengan Penasihat Senior untuk Negosiasi Perjanjian Keamanan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Timothy Betts, sebelum pertemuan keduanya di Seoul, Minggu (10/2). ( Foto: Dok SP )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Senin, 11 Februari 2019 | 14:45 WIB

Seoul, Beritasatu.com - Korea Selatan (Korsel) sepakat membayar US$ 924 juta (sekitar Rp 13 triliun) untuk mempertahankan keberadaan pasukan Amerika Serikat (AS) di negaranya.

Perundingan terkait pembayaran pasukan AS di Korsel telah melalui proses panjang, namun akhirnya disepakati oleh kedua pihak, yang diwakili Penasihat Senior untuk Kesepakatan dan Perundingan Keamanan AS, Timothy Betts, dan Menteri Luar Negeri Korsel Kang Kyung-wha.

Timothy Betts dan Kang Kyung-wha melakukan pertemuan di Seoul, Minggu (10/2), kemudian menandatangani kesepakatan. Tak lama setelah itu, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Korsel membuat pernyataan bahwa Seoul akan membayar sekitar 1,04 triliun won (US$ 924 juta) pada 2019.

Itu artinya, 8,2 persen lebih besar dari pada penawarannya sebelumnya di bawah pakta lima tahun yang berakhir akhir tahun 2018. Namun, jumlah pembayaran terbaru itu harus disetujui oleh parlemen Korsel pada April 2019. Angka itu meningkatkan kontribusi Korsel dari sebelumnya 960 miliar won pada 2018 (Rp 12 triliun).

Tidak seperti perjanjian sebelumnya yang berlaku lima tahun, kali ini jumlah kontribusi Korsel hanya berlaku selama satu tahun, sehingga kedua negara kemungkinan akan kembali ke meja perundingan dalam beberapa bulan lagi.

“Ini proses yang sangat panjang, tapi pada akhirnya proses yang sangat sukses,” kata Kang Kyung-wha.

Sementara Timothy Betts, mengatakan uang yang akan dibayarkan Korsel mewakili bagian kecil tapi penting dari dukungan Korsel kepada aliansi.

“Pemerintah AS menyadari bahwa Korsel telah melakukan banyak kepada aliansi kita dan perdamaian dan stabilitas di kawasan,” ujar Timothy Betts.

Senada dengan itu, Kemlu Korsel menyatakan, meskipun AS menuntut peningkatan besar dalam pembayaran, mereka mampu mencapai kesepakatan yang mencerminkan situasi keamanan di Semenanjung Korea.

“Kedua negara menegaskan kembali pentingnya aliansi Korsel-AS dan perlunya penempatan pasukan AS yang stabil,” sebut pernyataan Kemlu Korsel usai upacara penandatanganan kesepakatan.

AS dan Korsel telah menjadi aliansi keamanan sejak perang Korea tahun 1950-1953, yang berakhir dengan kesepakatan gencatan senjata (bukan perdamaian). Sejak saat itu, sekitar 28.000 tentara AS berada di Korsel untuk menjaga negara itu dari ancaman Korut.

Presiden AS, Donald Trump, berulang kali memprotes pengeluaran untuk pasukan militer yang ditempatkan di Semenanjung Korea, dan meminta agar Seoul menggandakan kontribusinya atas pembiayaan pasukan AS.



CLOSE