Ancaman Flu Babi Merebak di Tiongkok

Ancaman Flu Babi Merebak di Tiongkok
Demam babi yang menyebar di Jepang, menyebabkan pemerintah memutuskan untuk memusnahkan sekitar 15.000 ekor babi. ( Foto: Istimewa )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Rabu, 24 April 2019 | 11:59 WIB

Beijing, Beritasatu.com-Ancaman flu babi dari Afrika telah merebak di seluruh dataran Tiongkok sehingga mengancam seluruh industri babi di negara itu dan pasokan daging babi secara global. Seperti dilaporkan RT, Senin (22/4), flu babi dilaporkan sudah mencapai provinsi paling selatan Tiongkok, Hainan, yang sejauh ini terhindar dari flu babi.

Wabah itu mulai terjadi sembilan bulan lalu tapi tampaknya masih tidak terkendali. Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan menyatakan lebih dari 140 babi telah mati dari penyakit di enam peternakan di Hainan.

Wabah virus babi mulai merebak pada Agustus 2018 dan saat ini telah menyebar ke 31 provinsi di dataran Tiongkok dengan lebih dari 100 kasus selama beberapa bulan terakhir.

Virus itu sangat menular dan mematikan untuk babi dengan gejala demam tinggi, pendarahan di organ dalam, dan berakhir dengan kematian. Namun, flu babi Afrika tidak mempengaruhi manusia, tapi sangat berdampak bagi industri daging di Tiongkok.

Wabah itu telah mempengaruhi 150-200 juta babi, berdasarkan perkiraan perusahaan keuangan Raboban. Secara umum, Tiongkok diperkirakan menghadapi kerugian 30% dalam produksi babi tahun ini dan selanjutnya. Di sejumlah lokasi kerugian akibat flu babi bahkan bisa lebih bruk, mencapai 50%.

Babi adalah pilihan daging utama di Tiongkok yaitu lebih dari 60% dari total konsumsi daging. Saat negara itu menghadapi kekurangan daging babi, maka harga akan melambung tinggi dan sulit untuk memberi pasokan ke negara lain.

“Banyak ternak akan hilang karena infeksi dan likuidasi,” kata pengamat senior Rabobank Chenjun Pan kepada South China Morning Post.

“Akan ada kekurangan besar. Kami tidak berpikir negara mana pun di dunia, atau seluruh dunia digabungkan, bisa mengatasi kesenjangan pasokan ini. Bahkan setelah peningkatan impor, masih ada kekurangan pasokan,” tambahnya.

Beijing telah meningkatkan impor daging babi yang telah tumbuh 10% di dua bulan pertama tahun ini. Ini tentu saja bukan tanda baik, mengingat Tiongkok merupakan produsen babi terbesar yaitu kira-kira setengah dari populasi babi dunia dibesarkan di sana



Sumber: Suara Pembaruan