Ardern Bantah Bom Sri Lanka Aksi Balasan Penembakan Christchurch

Ardern Bantah Bom Sri Lanka Aksi Balasan Penembakan Christchurch
Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, memberi keterangan tentang teror penembakan di dua masjid di Kota Christchurch, Jumat (15/3/2019) ( Foto: Istimewa )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Rabu, 24 April 2019 | 14:43 WIB

Wellington, Beritasatu.com - Perdana Menteri (PM) Selandia Baru, Jacinda Ardern, membantah bahwa serangan bom Paskah di Sri Lanka adalah aksi balasan terhadap penembakan dua masjid di Christchurch.

Dalam pernyataan melalui surat elektronik, Ardern mengungkapkan tidak mengetahui laporan intelijen bahwa serangan bom yang terjadi di sejumlah gereja dan hotel di Sri Lanka, tepat saat perayaan Paskah, pada 21 April 2019, merupakan serangan balasan atas penembakan di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, pada 15 Maret 2019, yang menewaskan 50 orang.

“Kami memahami bahwa investigasi Sri Lanka atas serangan itu masih tahap awal. Selandia Baru belum melihat adanya (laporan) intelijen yang menjadi dasar penilaian semacam itu,” bunyi pernyataan dari kantor PM Selandia Baru yang dipublikasikan di Wellington, Rabu (24/4/2019).

Pada Selasa (23/4/2010), Menteri senior pertahanan Sri Lanka, Ruwan Wijewardene, melaporkan hasil penyelidikan awal kepada parlemen, yang mengungkapkan serangan bom Paskah yang terkordinasi dilakukan sebagai pembalasan atas penembakan mematikan di dua masjid Selandia Baru pada 15 Maret 2019.

Sebelumnya, Wijewardene menyatakan dua kelompok Islam Sri Lanka, yaitu National Thawheed Jama’ut dan Jammiyathul Millathu Ibrahim, bertanggung jawab atas serangan bom pada Minggu (21/4), di tiga gereja Katolik saat misa Paksah dan tiga hotel mewah saat jam sarapan.

Namun, Wijewardene tidak menjelaskan alasan pemerintah meyakini kaitan dari pembunuhan setidaknya 50 orang di masjid Christchurch saat shalat Jumat. Serangan teroris Christchurch sendiri dilakukan oleh pria asal Australia yang menganut paham supremasi kulit putih.

“Selandia Baru menentang terorisme dan kekerasan ekstrim dalam segala bentuknya. Setelah serangan di masjid Christchurch, kecaman kepada para pelaku kekerasan dan pesan perdamaian itu menyatukan kita semua,” sebut pernyataan dari kantor PM Jacinda Ardern.

Sementara itu, Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) mengklaim bertanggung jawab terhadap serangan itu yang jumlah korban tewas meningkat lagi menjadi 321 orang dan korban luka lebih dari 500 orang. Klaim ISIS disampaikan lewat kantor berita kelompok itu, AMAQ, Selasa, menyebut bahwa tujuh penyerang yang terlibat dalam pengeboman itu. Namun, kelompok teroris itu tidak menyertakan bukti lebih lanjut atas klaimnya.

ISIS, yang telah kehilangan wilayahnya di Suriah dan Irak, kemudian merilis satu video di AMAQ, memperlihatkan delapan penyerang dengan tujuh diantaranya memakai topeng, yang menyatakan sumpah setianya kepada pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi.

Kantor berita Inggris, Reuters, menyatakan tidak bisa memverifikasi klaim tersebut dan otoritas Sri Lanka tidak secara resmi mengidentifikasi para penyerang. Tiga orang sumber yang tidak disebutkan namanya menyebut para pejabat intelijen Sri Lanka telah diperingatkan beberapa jam sebelum serangan bom tersebut. Tidak jelas tindakan yang diambil selanjutnya.

 



Sumber: Suara Pembaruan/Reuters