Presiden Sri Lanka Akui Keteledoran Intelijen

Presiden Sri Lanka Akui Keteledoran Intelijen
Para muslim India memegang poster di luar Katedral Hati Kudus untuk memberi penghormatan kepada para korban serangan teror Sri Lanka, di New Delhi, Selasa (23/4/2019). ( Foto: AFP / Money SHARMA )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Kamis, 25 April 2019 | 21:08 WIB

Kolombo, Beritasatu.com- Pemerintah Sri Lanka mengakui keteledoran besar intelijen sehingga mengakibatkan tingginya jumlah korban tewas akibat serangan bom Paskah. Sejauh ini, korban tewas akibat bom bunuh diri di Sri Lanka mencapai 359 orang dan korban luka lebih dari 500 orang.

Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena telah mendesak pengunduran diri salah satu menteri pertahanannya, Hemasiri Fernando, dan pejabat tinggi polisi, Inspektur Jenderal Polisi Pujith Jayasundara, karena kesalahan penanganan laporan intelijen terkait serangan pada Minggu Paskah (21/4).

India telah menyampaikan peringatan intelijen sejak awal bulan April terkait rencana serangan kepada otoritas keamanan Sri Lanka, termasuk satu memo yang ditujukan kepada inspektur jenderal polisi menjelang serangan, tapi tidak ada langkah apa pun yang diambil untuk mencegahnya.

Presiden Sirisena, yang juga merangkap menhan Sri Lanka, menyatakan tidak tahu tentang peringatan awal itu.

“Kami harus bertanggung jawab karena sayangnya jika pembagian informasi intelijen ini disampaikan kepada orang yang tepat, saya pikir setidaknya ini bisa dihindari atau diminimalisasi,” kata Menteri Pertahanan Ruwan Wijewardene, Rabu (24/4).



Sumber: Suara Pembaruan