Rekonstruksi Sulteng, Belajar dari Pengalaman Jepang

Rekonstruksi Sulteng, Belajar dari Pengalaman Jepang
Kepala Riset Kementerian Infrastruktur Jepang Kunihiro Watanabe (kiri) menjelaskan proses rekonstruksi pasca-tsunami dan gempa bumi di Ishinomaki, Miyagi, Jepang, 25 April 2019. ( Foto: Beritasatu / Heru Andriyanto )
Heru Andriyanto / HA Kamis, 25 April 2019 | 22:56 WIB

Miyagi, Beritasatu.com - Demi mempercepat tahapan rekonstruksi pasca-bencana alam di Sulawesi Tengah, sebuah tim dari berbagai lembaga, kementerian, dan pemerintah daerah berkunjung ke Jepang pekan ini untuk mempelajari hal yang sama di negara tersebut.

Jepang sendiri dilanda tsunami hebat pada 11 Maret 2011 yang menewaskan sekitar 4.000 orang. Sekitar delapan tahun kemudian, wilayah-wilayah yang dilanda bencana telah dibangun kembali, dengan spesifikasi yang lebih tahan bencana, belajar dari pengalaman sebelumnya.

Pada Kamis (25/4/2019), delegasi Indonesia berkunjung ke kota Ishinomaki dan Onagawa, Prefektur Miyagi, untuk melihat bagaimana pemerintah setempat melakukan relokasi korban bencana, melakukan rekonstruksi, dan menghidupkan kembali perekonomian wilayah terdampak.

"Menahan tsunami dengan tanggul saja tidak memadai, kami harus pikirkan cara untuk menahan tsunami dalam berbagai levelnya," kata Kunihiro Watanabe, kepala peneliti Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, TraNsportasi, dan Pariwisata Jepang, dalam pertemuan di Ishinomaki.

"Namun, yang paling perlu diperhitungkan adalah tipe tsunami yang sering terjadi (frequent tsunami). Bukan hanya nyawa warga yang harus kita lindungi, tetapi juga aset-aset mereka."

Kemudian di depan delegasi Indonesia dia memaparkan diagram serta dokumentasi bencana di wilayah timur Jepang pada 2011, yang berisi dampak bencana serta upaya apa yang telah dilakukan pemerintah setempat.

"Kami tidak hanya meninggikan tanggul, tetapi juga membuat hutan buatan di belakangnya, dan kemudian jalan raya serta jalur kereta api ditinggikan," jelasnya.

Jembatan Kitakami

Jembatan Kitakami di kota Ishinomaki, Jepang, yang dibangun ulang lebih tinggi untuk menghindari tsunami, dalam foto 25 April 2019. Paling kanan adalah jembatan lama yang akan dihancurkan, tengah adalah jembatan sementara untuk penopang alat berat, paling kiri adalah jembatan baru yang sedang dibangun.

Upaya ini disebutkan bisa memperlambat laju arus air dan memberi tambahan waktu menjadi sekitar 30 menit untuk evakuasi. Dengan tanggul saja, seperti kejadian 2011, waktu yang dimiliki warga untuk menyelamatkan diri hanya sekitar 4 menit atau kurang.

Namun, penanganan apa pun akan sulit mencegah kerusakan jika yang terjadi adalah tsunami level 2 atau ketinggian air hingga 15 meter yang terjadi sekali dalam puluhan atau ratusan tahun, ujarnya.

Delegasi Indonesia terdiri dari pejabat Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, dan juga Wali Kota Palu Hidayat.

Kunjungan ini diinisiasi oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) yang sudah banyak terlibat dalam rekonstruksi di Sulawesi Tengah sejak bencana tsunami, likuefaksi, dan gempa bumi September tahun lalu.

Baca juga: Wali Kota Palu Imbau Warga Bersedia Direlokasi

Turut hadir dalam acara tersebut JICA Director untuk Indonesia Shinichi Yamanaka dan Deputy Director Syunsuke Takatoi.

Ishinomaki

Proses rekonstruksi pasca-tsunami dan gempa bumi yang masih berlangsung di Ishinomaki, Miyagi, Jepang, 25 April 2019.

Perjuangan di Onagawa
Di Onagawa, dampak tsunami 2011 sangat besar karena pusat kota kecil itu terletak di pinggir laut dan sempat terisolasi cukup lama.

Wali Kota Onagawa Yoshiaki Suda mengatakan bantuan pertama tiba setelah 72 jam. Beruntung sebelum itu ada sejumlah pabrik makanan yang masih memiliki stok ikan beku untuk dikonsumsi para penyintas. Mereka juga memakan ikan yang terdampar ke darat akibat tsunami.

Sebulan berikutnya, banyak warga yang hanya bisa makan sekali dalam sehari untuk menghemat persediaan karena akses menuju ke sana lumpuh total.

"Akibat tsunami, 85 persen wilayah kami hancur, dan kami juga kehilangan 8 persen dari populasi," kenangnya.

Setelah itu dimulai proses penanganan pasca-bencana yang sangat sulit. Untuk membersihkan lokasi saja diperlukan waktu 1,5 tahun. Kemudian 6,5 tahun berikutnya dilakukan rekonstruksi yang membuat kota wisata bahari itu kembali ke kehidupannya yang normal.

Seperti yang dipantau Beritasatu.com di lokasi, aktivitas perekonomian di sana sudah berdenyut dengan toko-toko dan restoran yang kembali dibuka, mobil lalu lalang, dan area pemukiman baru sudah ditempati.

Onagawa

Kota Onagawa dalam foto 25 April 2019, atau delapan tahun setelah tsunami 2011.

Pemerintah setempat mengambl langkah tegas untuk melarang warga berdiam di wilayah yang terdampak tsunami. Mereka direlokasi ke area yang lebih tinggi, hanya beberapa menit jalan kaki dari pantai.

"Kami membuat kebijakan itu sejak awal, dan terus konsisten memperjuangkan itu sehingga warga akhirnya bersedia dan sadar bahwa itulah solusi terbaik," ujarnya.

Karena skala bencana yang sangat masif, pemerintah pusat membantu penyediaan lahan dan bangunan tempat tinggal. Bagi yang hendak membangun rumah sendiri di lahan yang tersedia, diberikan pinjaman lunak 3 juta yen oleh pemerintah daerah.

Di sejumlah lokasi rawan bencana masih diperbolehkan untuk bangunan, dengan syarat lantai satu tidak boleh untuk hunian.

Namun, kota yang sangat asri dan sejuk itu masih menghadapi masalah penurunan populasi. Sebelum terjadi bencana, kota itu dihuni 10.014 orang. Gempa dan tsunami menewaskan 827 penduduk Onagawa dan menghancurkan sebagian besar bangunan yang ada.

Wali kota Onagawa

Wali Kota Onagawa Yoshiaki Suda.

Delapan tahun berikutnya, penduduk Onagawa tercatat hanya 6.466 orang. Onagawa menjadi kota yang paling parah terdampak tsunami dan gempa 2011, selain itu juga kota dengan tingkat penurunan populasi terbesar dari 1.741 kota yang ada di Jepang.

Wilayah pantai yang padat sudah tersapu tsunami, dan ditata ulang dengan merelokasi penduduk serta menjadikannya area wisata dengan bangunan sesedikit mungkin. Jalan dan jembatan ditinggikan berdasarkan ketinggan air saat tsunami 2011.

Tanah di wilayah pantai itu sekarang dimiliki oleh pemda, dan disewakan sebagai shopping district tanpa area hunian. Pusat perbelanjaan itu ditata sedemikian rupa sehingga memiliki jalur evakuasi yang jelas untuk manusia dan kendaraan jika terjadi tsunami. Hanya dibutuhkan empat menit jalan kaki dari lokasi ke wilayah perbukitan di dekatnya.

Onagawa

Wilayah pantai Kota Onagawa, Jepang, yang telah dibersihkan dari bangunan tempat tinggal dalam foto 25 April 2019, atau delapan tahun setelah tsunami 2011.



Sumber: BeritaSatu.com