Selamatkan Banyak Nyawa, Sekolah ini Jadi Monumen

Selamatkan Banyak Nyawa, Sekolah ini Jadi Monumen
Gedung sekolah dasar Arahama di Sendai, Jepang, dalam foto tertanggal 26 April 2019. ( Foto: Beritasatu / Heru Andriyanto )
Heru Andriyanto / HA Senin, 29 April 2019 | 06:53 WIB

Sendai, Beritasatu.com - Pada 11 Maret 2011, gempa bumi dahsyat mengguncang wilayah timur Jepang dan memicu gelombang tsunami setinggi kurang lebih 15 meter.

Kawasan pantai Sendai, prefektur Miyagi, adalah salah satu wilayah paling parah tersapu tsunami.

Namun, sebuah gedung sekolah dasar yang hanya beberapa ratus meter dari garis pantai tetap berdiri kokoh dan lantai atas serta atap menjadi tempat warga sekitar mengungsi dan akhirnya selamat dari bencana.

Gedung SD Arahama itu sekarang tetap dibiarkan apa adanya seperti kondisi Maret 2011, sebagai monumen untuk mengenang bencana luar biasa itu.

Sudah banyak foto yang dengan dramatis memperlihatkan bagaimana gedung sekolah itu menjadi satu-satunya bangunan yang utuh ketika pemukiman sekitarnya rata ditelan gelombang tsunami.

Majalah berisi foto gedung Sekolah Dasar Arahama di Sendai, Jepang, yang diterjang tsunami.,11 Maret 2011.

Saat berkunjung ke gedung tersebut pekan kemarin, Beritasatu.com ditemui pakar tsunami kondang Fumihiko Imamura yang ramah dan murah senyum.

"Sebetulnya pada 2000, kami sudah memprediksi bakal ada gempa bumi dan tsunami dalam periode 30 tahun. Kami sudah menyiapkan diri untuk gempa magnitudo 7,5 sampai 7,8," kata Imamura.

"Namun kemudian yang terjadi adalah gempa magnitudo 9,0."

Di lantai 4 gedung tersebut, Imamura menunjukkan dari arah mana tsunami menerjang, sejauh mana air laut mencapai daratan, dan area mana saja yang rata dengan tanah setelah gelombang surut.

"Yang tersisa hanya fondasi-fondasi rumah saja," kenangnya.

Gedung Sekolah Dasar Arahama di Sendai, Jepang, menjadi monumen dan dibiarkan dalam keadaan setelah diterjang tsunami 11 Maret 2011.

Saat bencana terjadi pada hari Jumat, para siswa sekolah sedang belajar seperti biasa. Mereka kemudian naik ke lantai yang lebih tinggi dan bahkan sampai ke atap bersama warga sekitar yang lolos dari terjangan air bah. Evakuasi selanjutnya dilakukan dengan helikopter.

Imamura juga menunjukkan bekas batas air yang masih menempel di dinding sekolah, yang ketinggiannya mencapai lantai dua.

Lantai sekolah yang terendam lumpur dibiarkan apa adanya. Untuk pengaman, pagar balkon yang hancur ditutup dinding kaca dengan foto ukuran aktual di sampingnya untuk menunjukkan kondisi riil ketika gedung itu diterjang gelombang.

Kecuali gedung SD Imamura dan dua bangunan pembangkit listrik di dekatnya, kawasan itu sekarang terlarang untuk bangunan apa pun, apalagi hunian. Kawasan itu menjadi salah satu percontohan counter-measures tsunami dengan pengamanan berlapis mulai dari tanggul, hutan pinus, sampai jalan raya yang ditinggikan.



Sumber: BeritaSatu.com