Akibat Serangan Bom, Satu Generasi Sri Lanka Hilang

Akibat Serangan Bom, Satu Generasi Sri Lanka Hilang
Umat Kristiani di Sri Lanka menyalakan lilin ketika berdoa di barikade dekat Gereja St. Anthony di Kolombo, Minggu (28/4/2019) seminggu setelah serangkaian ledakan bom yang menargetkan gereja dan hotel mewah pada Minggu Paskah di Sri Lanka. ( Foto: AFP / Jewel SAMAD )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Selasa, 30 April 2019 | 08:04 WIB

Kolombo, Beritasatu.com- Kisah kepedihan keluarga korban bom di Sri Lanka menjadi bagian dari peristiwa tragis yang seharusnya mengguncang kemanusiaan siapa pun.

Korban tewas yang mencapai lebih dari 253 orang di antaranya termasuk seluruh anggota keluarga yang sedang menghadiri Misa Paskah, seorang ibu dan putrinya yang menikmati sarapan pada hari istimewa umat Kristiani itu, dan pasangan pengantin baru yang tewas saat berbulan madu.

Bom Sri Lanka pada Minggu Paskah, 21 April lalu, juga menewaskan puluhan anak-anak. Sebagian besar dari mereka berasal dari keluarga yang sama, sehingga bisa dibilang keluarga itu telah kehilangan satu generasi penerus mereka.

Mayoritas korban tewas adalah umat Kristiani Sri Lanka dalam serangan terencana terhadap gereja Katolik dan hotel-hotel di ibu kota Kolombo, dan kota lainnya, Negombo sebelah utara ibu kota dan Batticaloa di pantai timur.

Rangana Fernando bersama istrinya, Danadiri Kuruppuachchi, dan ketiga anak mereka tewas dalam serangan di Negombo. Putri pasangan itu, Biola dan Leona, berusia enam dan empat tahun, sedangkan putra mereka, Seth, masih berusia 11 bulan.

Kesedihan mendalam juga dirasakan Anusha Kumari (43) yang telah kehilangan suaminya, Dulip Appuhami, dan dua anak mereka, Sajini Venura Dulakshi and Vimukthi Tharidu, serta saudara ipar perempuannya dan dua keponakannya saat serangan bom di Gereja Santo Sebastian di Negombo.

“Anda tidak percaya, tapi saya mempunyai keluarga yang sempurna,” kata Kumari dengan sebelah mata terbalut perban dan luka-luka akibat pecahan bom.

“Selama 24 tahun pernikahan, suami saya dan saya tidak pernah bertengkar. Kami berempat tidur di kamar yang sama. Sekarang, saya telah kehilangan segalanya,” ujarnya sambil terisak.

Korban tewas lainnya bernama Agnes Vnikprodha (69) bersama cucunya yang berusia delapan bulan, Matthew. Selain itu, Sneha Savindi (12), juga tewas dalam pengeboman di gereja Negombo. Sang paman, Duminda, mengatakan Savindi terluka parah sehingga satu-satunya yang bisa diidentifikasi hanyalah tanda lahir di kaki Savindi.

“Saya ingin melihatmu menjadi seorang pengantin, tapi sekarang, kamu berada di peti mati ini,” ratap sang tante, Lalitha.

Warga Negombo lainnya, Herman Peiris, juga kehilangan dua saudara perempuan dan dua keponakan perempuannya. Dia mengatakan kedua saudarinya, Celine dan Elizabeth, terlibat aktif di gereja Santo Sebastian, tapi sekarang orang-orang takut pergi ke sana.



Sumber: Suara Pembaruan