Pasca Bom Paskah

Pemerintah Sri Lanka Larang Gunakan Niqab dan Burka

Pemerintah Sri Lanka Larang Gunakan Niqab dan Burka
Tentara Satuan Tugas Khusus (STF) Sri Lanka memeriksa tempat pemakaman Muslim di Kolombo, Selasa (29/4), karena diduga sebagai tempat persembunyian senjata dan bahan peledak yang digunakan oleh pelaku serangan bom Paskah pada 21 April 2019. ( Foto: AFP / ISHARA S. KODIKARA )
Natasia Christy Wahyuni / Jeany Aipassa / JAI Selasa, 30 April 2019 | 14:45 WIB

Kolombo, Beritasatu.com - Pemerintah Sri Lanka mengeluarkan larangan terhadap pakaian Muslim yang menutup wajah, seperti niqab dan burka. Peraturan tersebut berlaku mulai Senin (29/4/2019), sebagai antisipasi pascaserangan bom Paskah, di sejumlah gereja dan hotel mewah, pada 21 April 2019.

Larangan tersebut diumumkan Presiden Sri Lanka, Maithripala Sirisena, pada Senin (29/4/2019), dengan alasan bahwa penutup wajah dapat menyembunyikan identitas pelaku serangan bom.

"Tidak seorang pun boleh mengaburkan wajah mereka sehingga mempersulit identifikasi,” Maithripala Sirisena, melalui pernyataan resmi yang dipublikasikan Pemerintah Sri Lanka. 

Niqab adalah penutup kepala yang menutupi bagian wajah, namun masih membiarkan bagian mata terbuka. Niqab pada umumnya menjuntai hingga bagian tengah punggung dan menutupi bagian tengah dada. Penutup kepala ini sering digunakan oleh wanita di Arab, namun beberapa wanita muslim di negara Barat juga seringkali menggunakannya.

Burka merupakan pakaian Muslim yang paling banyak menutupi bagian tubuh, mulai dari seluruh wajah hingga tubuh. Wajah wanita dengan memakai burka akan benar-benar ditutupi, mereka hanya melihat melalui jaring-jaring yang menutupi wajahnya. Jaring ini membuat pemakainya dapat melihat, namun mata mereka tetap tertutupi dari orang lain yang melihatnya. Burka biasanya diasosiasikan dengan Afganistan, dimana kaum Taliban dipaksa untuk menggunakan Burka ketika berpergian.

Pemerintah Sri Lanka telah melakukan serangkaian upaya untuk menangkap pelaku serangan bom Paskah dan mengantisipasi kejadian serupa terulang kembali.

Selain melakukan penggrebekan di komplek perumahan yang diduga menjadi sarang kelompok militan Muslim Sri Lanka, tentara juga melakukan penyisiran di tempat pemakaman umum umat Muslim, karena diduga menjadi tempat menyembunyikan senjata dan bahan peledak.

Tak hanya itu, pemerintah Sri Lanka juga melarang penggunaaan pakaian Muslim yang dapat mengaburkan identitas pelaku, karena mengkhawatirkan keterlibatan militan perempuan Muslim dalam serangan bom.

ISIS

Presiden Maithripala Sirisena juga mengatakan bahwa para pelaku serangan bom Paskah di Sri Lanka, dipastikan dilatih oleh kelompok teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS).

Hal itu diketahui dari penelusuran intelijen mengenai kaitan pelaku serangan dan ISIS dalam 15 tahun terakhir. Beberapa pelaku diduga sempat hijrah ke Suriah untuk mengikuti pendidikan militer ala ISIS.

“Intelijen kami meyakini bahwa ISIS telah memberikan pelatihan kepada para pelaku serangan bom saat perayaan Paskah, setelah melakukan pelacakan keterkaitan mereka dalam 15 tahun terakhir,” kata Maithripala Sirisena.

 

 

 



Sumber: Aljazeera/CNN/Suara Pembaruan