Kaisar Naruhito Tak Punya Pewaris Takhta

Kaisar Naruhito Tak Punya Pewaris Takhta
Pasangan Naruhito dan Masako. ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Rabu, 1 Mei 2019 | 14:18 WIB

Tokyo, Beritasatu.com- Naruhito adalah kaisar ke-126 Jepang pada usia 59 tahun. Sayang, pria yang sudah menjadi putra mahkota pada usia 28 tahun ini tak punya pewaris takhta.

Seperti dilaporkan BBC, Naruhito pernah mengenyam kuliah di Universitas Oxford di Inggris. Pada 1986, Naruhito bertemu dengan istrinya, Masako Owada di acara pesta teh.

Masako yang kini menjadi permaisuri dulunya merupakan warga biasa Jepang. Dia akhirnya menerima lamaran Naruhito setelah bujukan kuat Naruhito. Mereka pun menikah pada 1993.

"Kamu mungkin takut dan khawatir bergabung dengan keluarga kekaisaran. Tetapi saya akan melindungi sepanjang waktu," katanya

Masako, yang dilaporkan menderita gangguan stres, mengakui pada bulan Desember bahwa ia merasa "tidak aman" menjadi permaisuri. Tetapi dia berjanji untuk melakukan yang terbaik demi melayani rakyat Jepang.

Masako mengenyam pendidikan di Harvard dan Oxford, dan memiliki karier yang menjanjikan sebagai diplomat sebelum menikah.

Satu-satunya anak pasangan Naruhito dan Masako adalah Putri Aiko, lahir pada tahun 2001. Namun, hukum Jepang saat ini membatasi perempuan untuk mewarisi takhta sehingga dia bukan pewaris ayahnya.

Saudara laki-laki Naruhito, Pangeran Fumihito akan berada di urutan berikutnya, diikuti oleh keponakan kaisar baru, Pangeran Hisahito yang saat ini masih berusia 12 tahun.

Sebenarnya, kaisar Jepang dulu dipandang sebagai dewa, tetapi kaisar sebelumnya, Hirohito - ayah Akihito - secara terbuka meninggalkan keilahiannya di akhir Perang Dunia Kedua, sebagai bagian dari penyerahan Jepang.

Memperbaiki

Peran itu didefinisikan ulang oleh Kaisar Akihito, yang membantu memperbaiki kerusakan reputasi Jepang setelah perang.

Akihito dikenal karena menghilangkan penghalang antara rakyat dan monarki. Kekaisaran Jepang adalah monarki turun temurun tertua di dunia, dimulai sejak sekitar 600 SM.

Pada tahun 1991, dua tahun setelah Akihito naik takhta, dia dan permaisuri melanggar norma-norma dan berlutut untuk berbicara kepada orang-orang yang terkena dampak letusan gunung berapi di Nagasaki dan terus melakukannya.

Setelah gempa bumi 2011, tsunami dan krisis nuklir yang menewaskan ribuan di Jepang timur, mantan kaisar dan istrinya Michiko dipuji karena merakyat demi menghibur korban selamat.

Interaksi Akihito dan permaisuri dengan orang-orang yang menderita penyakit kronis seperti kusta, yang terpinggirkan di Jepang, dinilai sangat berbeda dari masa lalu.

Akihito sekarang akan dikenal sebagai "Joko", yang berarti "kaisar agung" atau "Kaisar Emeritus", sedangkan Michiko akan menjadi "Permaisuri Emerita".



Sumber: Suara Pembaruan