Diancam Bom, Gereja-gereja Katolik di Sri Lanka Kembali Batalkan Misa

Diancam Bom, Gereja-gereja Katolik di Sri Lanka Kembali Batalkan Misa
Personel angkatan laut Sri Lanka melakukan pekerjaan perbaikan pada bangunan gereja St Anthony's di Kolombo, Kamis (2/5/2019). ( Foto: AFP / LAKRUWAN WANNIARACHCHI )
Natasia Christy Wahyuni / FMB Jumat, 3 Mei 2019 | 17:39 WIB

Kolombo, Beritasatu.com - Gereja-gereja Katolik di Ibu Kota Sri Lanka, Kolombo, telah membatalkan misa hari Minggu untuk mengantisipasi ancaman bom lanjutan. Ini merupakan pembatalan misa Minggu kedua kalinya setelah serangan bom bunuh diri pada Minggu Paskah 21 Aprik lalu yang menewaskan 257 orang.

Pasukan keamanan Sri Lanka menyatakan pihknya saat ini menerapkan kewaspadaan tinggi karena laporan intelijen mengindikasikan kemungkinan serangan sebelum dimulainya bulan suci Ramadan pada Senin (6/5/2019).

Ancaman bom itu juga disampaikan oleh Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Sri Lanka Alaina Teplitz, yang menyebut beberapa militan Islam di balik penyerangan bom Paskah, yang masih dalam pengejaran, tampaknya merencanakan lebih banyak serangan pada pekan ini.

Senada dengan itu, juru bicara Keuskupan Agung Kolombo Edmund Tillekeratne, Jumat (3/5/2019), menyatakan situasi keamanan belum membaik.

Sementara itu, Uskup Agung Kolombo, Kardinal Malcolm Ranjith, mengatakan pada Kamis (2/5), beredar informasi dari “sumber asing yang sangat andal” tentang peringatan serangan terhadap satu gereja terkemuka. Kardinal Malcolm telah meminta agar semua sekolah swasta Katolik di ibu kota dan sekitarnya tetap tutup untuk saat ini.

Sekolah-sekolah tersebut baru akan dibuka kembali hari Senin nanti. Kementerian Pendidikan Sri Lanka menyatakan setidaknya seorang petugas polisi akan ditempatkan di masing-masing institusi pendidikan itu untuk melindungi anak-anak.

Polisi sudah menetapkan tersangka pengebom bunuh diri pada Paskah tanggal 21 April 2019. Dua kelompok militan lokal disebut terlibat di dalamnya yaitu National Thawheedh Jamaath (NTJ) dan Jammiyathul Millathu Ibrahim. Di pihak lain, Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) juga mengklaim serangan tersebut.



Sumber: Suara Pembaruan