Oposisi Yakin Partai Modi Kehilangan Dukungan

Oposisi Yakin Partai Modi Kehilangan Dukungan
Priyanka Gandhi Vadra (kanan), pemimpin politik India dan sekretaris jenderal partai Kongres untuk Uttar Pradesh timur, dengan suaminya Robert Vadra (kiri) menunggu di luar kantor pengumpul distrik selama Nominasi Rahul Gandhi untuk pemilihan umum yang akan datang di Amethi, India, Rabu (10/4/2019). ( Foto: AFP / SANJAY KANOJIA )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Senin, 13 Mei 2019 | 19:06 WIB

New Dehi, Beritasatu.com- Pemilihan umum di India memasuki fase keenam dari total tujuh fase sebagai pesta demokrasi terbesar di dunia. Lebih dari 100 juta pemilih di tujuh negara bagian melakukan pemungutan suara pada Minggu (12/5) dengan prediksi partai dari Perdana Menteri (PM) Narendra Modi, tetap menjadi yang terdepan.

Namun, partai-partai oposisi mengaku melihat tanda-tanda bahwa partai Modi, Partai Bharatiya Janata (BJP), kehilangan dukungan. Oposisi sudah memulai negosiasi untuk membentuk aliansi pasca pemilihan bahkan sebelum pemungutan suara berakhir pada 19 Mei 2019. Proses penghitungan suara sendiri akan dilakukan tanggal 23 Mei 2019.

Presiden dari oposisi utama, Partai Kongres, Rahul Gandhi, mengatakan isu utama dalam pemilu kali ini adalah pengangguran, kesulitan ekonomi di pedesaan, mengakhiri uang kertas, dan pajak penjualan baru.

“Ini pertarungan yang baik. Narendra Modi memakai kebencian, kami menggunakan kasih. Dan saya pikir kasih yang akan menang,” kata Gandhi setelah memberikan suaranya.

Modi dihujani isu seputar kurangnya lapangan pekerjaan baru, meskipun pertumbuhan ekonomi tahunan sekitar 7 persen, dan nasib petani yang berjuang dengan jatuhnya harga pangan. Pemberlakuan pajak barang dan jasa yang baru, serta larangan mengejutkan Modi kepada seluruh uang kertas bernilai tinggi tahun 2016, telah melukai usaha menengah dan kecil.

Para pemilih di ibu kota, New Delhi, mengaku mendukung Modi karena pendekatan kerasnya atas keamanan. Pesawat-pesawat perang India menyerang kamp pelatihan teroris di Pakistan pada Februari lalu, tak lama setelah serangan bom bunuh diri di wilayah sengketa Kashmir sehingga menewaskan 40 petugas polisi.

Namun, kekhawatiran akan pengangguran dan harga panen membuat BJP berada di belakang. Oposisi mengaku lebih optimis atas peluangnya beberapa hari terakhir.



Sumber: Suara Pembaruan