Hasil Awal Pemilu Filipina, Duterte Masih Kuat

Hasil Awal Pemilu Filipina, Duterte Masih Kuat
Presiden Filipina, Rodrigo Duterte. ( Foto: AFP / Hoang Dinh Nam )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Selasa, 14 Mei 2019 | 14:10 WIB

Manila, Beritasatu.com - Hasil awal pemilihan umum (pemilu) paruh waktu Filipina menunjukkan pemerintahan Presiden Rodrigo Duterte masih mendapat dukungan kuat rakyat Filipina.

Kandidat yang didukung Rodrigo Duterte mengambil sebagian besar dari 12 kursi senat yang tersedia, hanya satu kursi saja yang diambil pihak oposisi.

Mayoritas pendukung Rodrigo Duterte di Senat otomatis bisa mengurangi kecaman dan penyelidikan majelis rendah terhadap pemerintahan Rodrigo Duterte.

Hal itu juga akan memudahkan Rodrigo Duterte dalam meloloskan rancangan undang-undang (RUU) yang kontroversial, seperti mengembalikan hukuman mati dan mengubah konstitusi untuk memperkenalkan federalisme, dan kemungkinan memperpanjang batas waktu kekuasaan presiden.

Program perang terhadap Narkoba yang diluncurkan Rodrigo Duterte telah memicu kecaman internasional, tapi di dalam negeri menjadi pusat daya tarik populis yang melambungkan popularitasnya sejak menjabat sebagai presiden Filipina pada 2016.

Dalam pemungutan suara pemilu sela, para kandidat loyalis pemerintahan terlihat akan meraih kemenangan sebagaimana data dari badan Katolik pemantau pemilihan, PPCRV.

Dari 94 % hasil suara yang sudah dihitung pada Selasa (14/5/2019) pagi, sekutu-sekutu Duterte berada di jalur untuk mengambil 12 kursi terbuka di majelis tinggi. Hasil resmi dan lengkap dari komisi pemilihan baru akan keluar dalam beberapa hari mendatang.

Secara historis, 24 senator negara yang telah melayani enam tahun masa jabatan, memiliki reputasi lebih mandiri daripada majelis rendah.

Sebagai bagian dari penumpasan narkoba yang telah menewaskan lebih dari 5.000 orang, Duterte berjanji untuk mengembalikan hukuman mati dan menurunkan usia pertanggungjawaban pidana dari 15 tahun menjadi 12 tahun.

Filipina telah melarang hukuman mati pada 1987, lalu memberlakukan kembali enam tahun kemudian, dan menghapusnya lagi pada 2006.

Duterte juga menjanjikan untuk menulis ulang konstitusi Filipina demi menciptakan republik federal dimana wilayah-wilayah akan diberikan kekuasaan lebih besar untuk mengatasi persoalan kemiskinan yang mengakar.

Namun, para penentangnya melihat rencana itu sebagai usaha untuk memperluas kekuasaannya dan memperlemah institusi-institusi demokrasi.

Lebih dari 18.000 posisi dipertaruhkan dalam pemungutan suara, khususnya di tingkat lokal, dan juga setengah dari Senat dan hampir 300 kursi di DPR.

Pemungutan suara memicu sejumlah aksi kekerasan yang tidak bisa dalam pertarungan politik di Filipina. Setidaknya 20 orang tewas dan 24 terluka dalam aksi kekerasan terkait pemilihan menjelang pemungutan suara.

Militer menyatakan sembilan orang ditembak dan terluka pada Senin saat terjadi konfrontasi di tempat pemungutan suara di pulau sebelah selatan, Jolo, yaitu rumah dari para pemberontak Muslim dan suku lokal yang kuat.

Jumlah pemilih stabil di sepanjang hari pemungutan suara. Para pemilih di Filipina menunjukkan partisipasi mereka di media sosial dengan memperlihatkan jari mereka yang sudah diberi tinta.

“Saya memilih banyak kandidat yang didorong Presiden Duterte karena pemerintahnya melakukan pekerjaannya. Saya mendukung program-programnya, termasuk kampanye anti-narkoba, tapi berharap pertumpahan darah dihentikan,” kata seorang pemilih, Myrna Cruz (51), di Manila, Selasa (14/5/2019).



Sumber: Suara Pembaruan/AFP/Reuters