Kekerasan Meluas, Sri Lanka Berlakukan Jam Malam

Kekerasan Meluas, Sri Lanka Berlakukan Jam Malam
Personel keamanan Sri Lanka memeriksa becak roda tiga ketika pemblokiran jalan berlangsung di Kolombo, Senin (13/5/2019). Sri Lanka memberlakukan jam malam malam nasional pada 13 Mei, setelah kerusuhan menyebar ke setidaknya tiga distrik di utara ibu kota. ( Foto: AFP / LAKRUWAN WANNIARACHCHI )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Selasa, 14 Mei 2019 | 14:42 WIB

Kiniyama, Beritasatu.com - Pemerintah Sri Lanka, Senin (13/5/2019), memberlakukan jam malam untuk mengantisipasi berlanjutnya kekerasan dan penjarahan yang menargetkan tempat ibadah dan toko-toko milik warga Muslim.

Jam malam tersebut diberlakukan mulai Senin (13/5/2019), pada pukul 21.00 hingga pukul 04.00 waktu setempat, setelah satu orang tewas akibat aksi kekerasan dan penjarahan, yang membuat polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa.

Warga Muslim di wilayah Provinsi Utara Barat menyatakan kerumunan massa telah menyerang tempat ibadah serta merusak toko-toko dan bisnis milik warga Muslim untuk hari kedua.

“Ada ratusan perusuh, polisi dan tentara hanya menonton. Mereka telah membakar dan menghancurkan banyak toko milik warga Muslim. Ketika kami berusaha keluar rumah, polisi meminta kami tetap di dalam,” kata penduduk di wilayah Kottamppitiya, Sri Lanka, yang menolak disebutkan namanya. 

Di kota utara-barat, Kiniyama, jendela-jendela dan pintu-pintu menuju tempat ibadah Muslim dihancurkan. Serangan itu dipicu oleh sekelompok orang yang menuntut penggeledahan gedung tersebut, setelah tentara memeriksa danau di dekatnya untuk mencari senjata.

Serangan teror bom Paskah pada 21 April 2019, yang diklaim oleh Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), telah memicu kekhawatiran munculnya serangan balasan kepada minoritas Muslim di negara itu.

Seorang petugas di rumah sakit (RS) Marawila menyatakan pria berusia 42 tahun yang dibawa ke RS itu dengan luka tikaman, telah meninggal. Penduduk di wilayah tempat kekerasan terjadi membantu membawa korban ke RS dan mengidentifikasinya sebagai Mohamed Ameer Mohamed Sally.

Ketegangan di Sri Lanka memang memuncak setelah milisi Islam menyerang gereja-gereja dan hotel-hotel pada Minggu Paskah sehingga menewaskan lebih dari 250 orang dan melukai sekitar 500 orang.

Perdana Menteri, Ranil Wickremesinghe, menyerukan agar tenang dan menyatakan kerusuhan terbaru telah menghambat penyelidikan atas serangan teror bom bulan lalu.

Ranil Wickremesinghe memperingatkan jika rasisme meningkat dan perdamaian terganggu, maka negara akan menjadi tidak stabil.

“Tujuan kelompok-kelompok ini yang menyebabkan kekerasan adalah membuat gangguan dalam kehidupan masyarakat dan mendestabilisasi negara,” kata Ranil Wickremesinghe.

Rail Wickremesinghe menyatakan telah memberikan kekuasaan kepada pasukan keamanan untuk mengambil tindakan tegas terhadap para pengganggu perdamaian.

Otoritas juga sudah memblokir sementara media sosial dan jaringan pesan termasuk Facebook dan WhatsApp, setelah bentrokan di bagian lain negara itu yang dipicu perselisihan di Facebook.

Warga Muslim Sri Lanka berjumlah hampir 10 persen dari 22 juta populasi warga Sri Lanka yang didominasi Buddha Sinhalese.



Sumber: Suara Pembaruan/Reuters/The Guardian/BBC