Pemilu India, Peluang Modi Masih Kuat

Pemilu India, Peluang Modi Masih Kuat
Pendukung Partai Bharatiya Janata (BJP) memberikan dukungan kepada Perdana Menteri India, Narendra Modi, menyampaikan pidato dalam kampanye menjelang Fase VI pemilihan umum India, di Kota Allahabad, pada 9 Mei 2019. ( Foto: AFP / SANJAY KANOJIA )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Rabu, 15 Mei 2019 | 13:41 WIB

New Delhi, Beritasatu.com - Perdana Menteri (PM) India, Narendra Modi, diprediksi masih berpeluang kuat memenangkan pemilihan umum (Pemilu) Tahun 2019.

Meski demikian, Narendra Modi diperhadapkan pada tantangan prospek ekonomi India yang rapuh, jika terpilih dan menjalankan periode kedua pemerintahannya.

Pengamat menilai, dukungan yang kuat terhadap Bharatiya Janata Party (BJP) yang mengusung Narendra Modi sebagai Perdana Menteri (PM) India, antara lain didorong oleh keberhasilan pemerintahan Narendra Modi dalam meningkatkan kepercayaan investor selama lima tahun kepemimpinannya.

Selain itu, Penanganan Narendra Modi yang tegas terhadap ketegangan dengan Pakistan, juga dinilai meningkatkan peluang kemenagan Partai BJP dalam pemilihan umum terbesar di dunia yang digelar secara bertahap pada 11 April-19 Mei 2019.

Investor juga melihat alasan bagus untuk kemenangan partai penguasa dalam jajak pendapat. Pasalnya, pasar saham India berjalan baik selama lima tahun terakhir.

Sejak pelantikan Modi pada Mei 2014, indeks saham terbesar India, Nifty, telah meningkat 28 persen terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sedangkan indeks MSCI Emerging Markets telah kehilangan sekitar 1%.

Namun ada beberapa tantangan yang bisa mengancam periode kedua untuk Modi, salah satunya yang paling serius adalah tekanan dana yang telah membuntuti pasar uang jangka pendek sejak September 2018, karena wanprestasi dari infrastruktur yang luas dan kelompok keuangan IL&FS.

Ketegangan telah berfokus kepada perusahaan-perusahaan keuangan non-bank atau NBFC, yang sangat bergantung pada pendanaan grosir dan menjadi penggerak penting dari pertumbuhan kredit India beberapa tahun terakhir.

Berbulan-bulan krisis, para investor ritel tetap mencurigai reksa dana pendapatan tetap yang memainkan peran kunci dalam pasar utang. “Bahkan sejak isu IL&FS, arus keluar tetap berlanjut,” kata manajer pendanaan pendapatan tetap, Arvind Subramanian, di Manajemen Aset IDFC.

Itu telah mendorong biaya pinjaman untuk para kreditur menengah, yaitu penyebaran surat utang Triple A dan Single A telah meningkat lebih dari 140 basis poin sejak September 2018, sampai hampir 3,8 persen poin.

“Pada 23 Mei 2019, hasil pemilihan India akan diumumkan dan memiliki pengaruh penting untuk pasar uang. Siapa pun pemerintah yang berkuasa harus bergerak cepat memperbaiki persoalan ini,” kata pendiri Marcellus Investment Managers Saurabh Mukherjea.



Sumber: Suara Pembaruan/Financial Times/Reuters/