KBRI Belum Verifikasi WNI Terduga Teroris di Malaysia

KBRI Belum Verifikasi WNI Terduga Teroris di Malaysia
Empat tersangka teroris, salah satunya disebut sebagai warga negara Indonesia yang ditangkap Polisi Malaysia selama penyergapan, pada 5-7 Mei 2019. ( Foto: Istimewa )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Rabu, 15 Mei 2019 | 13:53 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur belum memberikan akses konsuler oleh Kepolisian Malaysia untuk melakukan verifikasi terhadap seorang terduga teroris warga negara Indonesia (WNI).

Kepolisian Diraja Malaysia (PDRM) sebelumnya menyatakan WNI itu ditangkap bersama tiga orang lainnya karena merencanakan serangan teror dan pembunuhan di bulan suci Ramadhan.

“Hingga saat ini akses konsuler belum diberikan oleh PDRM. Kalau sudah bertemu, teman-teman KBRI baru dapat memverifikasi (kewarganegaraannya) dan mendalami kronologisnya,” kata Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal, saat dihubungi SP di Jakarta, Rabu (15/5).

PDRM telah menangkap empat pria yang mengaku merencanakan serangan ke kuil, gereja, dan akan membunuh tokoh-tokoh penting, untuk membalas dendam kepada non-Muslim atas kematian seorang pemadam kebakaran Melayu-Muslim di tempat parkir satu kuil Hindu, pada November 2019.

Mereka adalah dua orang dari kelompok etnis Rohingya, seorang Indonesia, dan seorang Malaysia, yang ditangkap dalam penyergapan antara 5-7 Mei di Kuala Lumpur, Subang Jaya, dan Kuala Berang di Terengganu. Para tersangka mengaku sebagai bagian dari sel Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS).

“PDRM telah mengeluarkan rilis mengenai penangkapan empat orang terduga radikalisme atau terorisme. Dari keempat orang tersebut, terdapat seorang yang diduga WNI,” ujar Lalu Muhammad Iqbal. 

Dikutip dari Straits Times, Selasa (14/5), Kepala Kepolisian Nasional Malaysia, Abdul Hamid Bador, mengatakan divisi kontraterorisme polisi menyita enam alat peledak buatan atau improvised explosive devices (IED) dalam salah satu penyergapan yang diyakini akan dipakai untuk serangan ke gerai serta ke kuil-kuil Hindu dan Buddha, juga gereja.

Polisi Malaysia menyatakan WNI yang ditangkap berencana pergi ke Suriah untuk berperang bersama kelompok teroris ISIS. Orang yang diduga WNI itu berusia 49 tahun dan ditahan di Subang Jaya, Selangor.

Pada awal penangkapan, polisi menahan buruh Malaysia berusia 34 tahun di Kuala Berang, Terengganu pada 5 Mei 2019. “Dia diduga sebagai dalang sel. Dia berencana mengebom kuil-kuil dan gereja-gereja, serta gerai hiburan,” kata Abdul Hamid.

Polisi meyita pistol CZ 9 milimeter dengan 15 peluru dari tersangka tersebut dan enam IED berukuran panjang 18 sentimeter. Selanjutnya, pada 7 Mei, dua pria Rohingya berusia 20 dan 25 tahun ditangkap di KL. Polisi Malaysia mengatakan salah satu warga Rohingya mengaku mendukung Tentara Pembebasan Arakan Rohingya dan berencana untuk menyerang Kedutaan Besar Myanmar di KL.

“Seluruh tersangka berkomunikasi lewat WhatsApp dan mereka menerima perintah dari seorang warga Malaysia yang masih berada di Suriah. Mereka ditahan di bawah UU Pelanggaran Keamanan (Tindakan Khusus),” kata Abdul Hamid.

Hingga kini, polisi masih mengejar tiga tersangka lagi yaitu Syahzani Mahzan (35) dan Muhammad Nuurul Amin Azizan (27) yang terakhir kali terlihat di Bedong, Kedah, dan diduga sebagai anggota ISIS yang merencanakan serangan ke rumah-rumah ibadah. Orang ketiga adalah WNI bernama Fatir Tir, seorang buruh, yang terakhir terlihat di Banting, Selangor.



Sumber: Suara Pembaruan/Straits Times/Malaymail