Ratusan Simbol Seperti Emoji Digunakan di Pemilu India

Ratusan Simbol Seperti Emoji Digunakan di Pemilu India
Narendra Modi dipandang sebagai pemimpin yang dinamis dan efisien ( Foto: AP PHOTO )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Rabu, 15 Mei 2019 | 14:46 WIB

New Delhi, Beritasatu.com - Ratusan simbol seperti emoji digunakan partai-partai dalam pemilihan umum (Pemilu) India yang digelar secara e-voting (pemungutan suara elektronik).

Penggunaan simbol tersebut dimaksudkan untuk memudahkan pemilih menandai partai yang bertarung dalam Pemilu India. Ratusan simbol itu mewakili 2.300 partai politik untuk lebih dari 500 kursi di majelis rendah parlemen. Komisi pemilihan India menggelar pemilu sampai delapan tahap, mulai 11 April-19 Mei 2019.

Sebagian besar simbol yang muncul di mesin pemungutan suara elektronik India terlihat seperti emoji di ponsel pintar atau ilustrasi dari kamus atau ensiklopedi anak-anak. Misalnya saja, kipas angin, kelapa, atau payung.

Bahkan partai Perdana Menteri Narendra Modi, yakni Partai Bharatiya Janata (BJP), juga mempunyai simbol, yaitu bunga teratai yang dipilih karena merupakan bunga nasional India dan juga menjadi tempat duduk bagi dewi kesejahteraan dan pengetahuan umat Hindu.

Untuk memastikan para pemilih mendapatkan pesannya maka simbol-simbol partai itu dicetak di spanduk-spanduk politik, disebarkan saat kampanye politik, dan terpampang di manifesto pemilu, dokumen yang dikeluarkan oleh partai-partai untuk diberikan kepada para pendukung masing-masing.

Simbol-simbol itu telah menjadi bagian dari proses pemilihan di India sejak pemilu demokrasi pada 1951 dimana India telah baru meraih kemerdekaan dari penjajahan Inggris. Simbol dimaksudkan untuk membantu India saat itu yang 80 persen populasi rakyatnya masih buta huruf. Dalam sensus terakhir tahun 2011, angka penduduk melek huruf sudah 74 persen.

Pemilu India yang akan berakhir pada Minggu (19/5) diwarnai sejumlah kampanye permusuhan bahkan melihat dari standar India, tanpa adanya debat kebijakan nyata yang diharapkan bisa menguntungkan Narendra Modi dan BJP.



Sumber: Suara Pembaruan/Reuters/NPR