Ratusan Ribu WN Hong Kong Tolak RUU Ekstradisi Tiongkok

Ratusan Ribu WN Hong Kong Tolak RUU Ekstradisi Tiongkok
Pengunjuk rasa menghadiri rapat umum untuk menentang rencana undang-undang ekstradisi di Hong Kong pada Minggu (9/6/2019). ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Minggu, 9 Juni 2019 | 20:48 WIB

Hong Kong, Beritasatu.com- Ratusan ribu orang memenuhi di jalan-jalan Hong Kong pada Minggu (9/6). Aksi protes ini merupakan upaya terakhir untuk menggagalkan undang-undang ekstradisi yang diusulkan yang akan memungkinkan para tersangka dikirim ke Tiongkok untuk diadili.

Seperti dilaporkan Reuters, Minggu (9/6), Kepala polisi menyerukan agar publik menahan diri. Penyiar televisi yang didanai pemerintah RTHK melaporkan, aparat mengerahkan lebih dari 2.000 petugas untuk pawai yang diperkirakan menarik lebih dari setengah juta orang.

Aksi demo ini akan menjadikan unjuk rasa terbesar sejak jumlah yang sama terjadi pada tahun 2003 untuk menentang rencana pemerintah untuk hukum keamanan nasional yang lebih ketat, yang kemudian dibatalkan. Polisi dan organisator belum memberikan perkiraan jumlah peserta demo.

Perdebatan mulai di dewan pada Rabu (5/6) tentang amendemen Ordonansi Pelanggar Hukum. RUU itu bisa disahkan menjadi hukum pada akhir Juni.

Nyanyian "tanpa ekstradisi Tiongkok, tidak ada hukum kejahatan" bergema di jalan-jalan kota yang tinggi, sementara pawai lainnya menyerukan Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam untuk mundur. Seorang pengunjuk rasa memegang tulisan "Carry off Carrie".

Lam telah mengutak-atik proposal tetapi telah menolak untuk menarik RUU itu, mengatakan sangat penting untuk memasang "celah" lama.

Penolakan terhadap RUU yang diusulkan telah menyatukan berbagai komunitas, mulai dari pebisnis dan pengacara yang pro-kemapanan hingga mahasiswa, tokoh pro-demokrasi dan kelompok agama.

Agen asuransi, eksekutif dan pengusaha kecil bergabung dengan pengemudi bus dan mekanik.  Reuters berbicara kepada banyak orang yang mengaku itu adalah aksi protes pertama mereka.

"Saya datang ke sini untuk berjuang," kata seorang lelaki berusia 78 tahun dengan kursi roda, bermarga Lai, yang termasuk orang pertama yang tiba di Victoria Park sebelum dimulainya pawai protes.

"Mungkin tidak ada gunanya, tidak peduli berapa banyak orang di sini. Kami tidak memiliki cukup kekuatan untuk melawan karena pemerintah Hong Kong didukung oleh otoritas daratan," kata Lai, yang menderita penyakit Parkinson.



Sumber: Suara Pembaruan