Mantan Ibu Negara Korsel, Pejuang Anti-Poligami, Wafat

Mantan Ibu Negara Korsel, Pejuang Anti-Poligami, Wafat
Lee Hee-ho (kiri) bersama presiden Korsel ke-15 Kim Dae-jung saat upacara pelantikan pada 1998. ( Foto: Yonhap )
Heru Andriyanto / HA Selasa, 11 Juni 2019 | 10:55 WIB

Seoul, Beritasatu.com – Janda mendiang mantan presiden Korea Selatan Kim Dae-jung meninggal dunia pada usia 96 tahun, Senin (10/6/2019) kemarin.

Lee Hee-ho meninggal dunia setelah berjuang melawan kanker hati. Dia dikenal aktif dalam memperjuangkan hak kaum perempuan dan ikut terlibat dalam kebijakan “sinar matahari” yang diinisiasi suaminya untuk menjalin hubungan kembali dengan Korea Utara.

Dia juga dianggap sebagai salah satu pionir pejuang hak perempuan di Korsel, dan belahan jiwa seumur hidup bagi mantan presiden Kim, yang menjalani karir politik berliku dan berat karena pernah diculik dan divonis hukuman mati, sebelum akhirnya menjadi presiden dan menerima Nobel Perdamaian.

Pada era ketika kaum perempuan Korsel punya akses terbatas pada Pendidikan, Lee mendapat kesempatan kuliah di perguruan tinggi terbaik negara itu, Seoul National University, dan kemudian melanjutkan ke Amerika Serikat. Kemudian, dia mendirikan sejumlah organisasi yang memperjuangkan hak-hak perempuan di Seoul.

Salah satu perjuangan awalnya adalah memprotes para politisi pria yang memiliki selir atau wanita simpanan. Praktik semacam itu sangat umum di Korsel pada era 1950an, ketika para istri yang sah justru sering dipaksa meninggalkan anak-anak mereka ketika si suami memilih hidup dengan gundiknya.

"Hari ini kita melepas seorang tokoh hebat yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kaum perempuan," kata Presiden Korsel Moon Jae-in yang tengah berkunjung ke Finlandia, Selasa (11/6/2019).

"Dia juga berperan dalam gerakan pro-demokrasi dan turut serta mendirikan Kementerian Kesetaraan Gender semasa pemerintahan suaminya.”

Suami Lee banyak dikenal karena merintis normalisasi hubungan dengan Korut melalui KTT dua negara bersama pemimpin Korut Kim Jong-Il pada 2000.

Kebijakan itu tidak diteruskan ketika kubu konservatif berkuasa di Korsel pada 2008 dan hubungan dua negara kembali memburuk.

Lee sempat berkunjung ke Korut pada 2015, sekitar lima tahun setelah suaminya meninggal, tetapi gagal bertemu dengan pemimpin Korut Kim Jong Un.



Sumber: AFP