Eksekusi Mati di Korut Gunakan Kolam Piranha

Eksekusi Mati di Korut Gunakan Kolam Piranha
Ikan Piranha ( Foto: ABC / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Selasa, 11 Juni 2019 | 20:49 WIB

Pyongyang, Beritasatu.com- Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un mengeksekusi seorang jenderal yang dituduh merencanakan kudeta, dengan melemparkannya ke dalam tangki ikan berisi piranha.

Seperti dilaporkan Dailymail, Minggu (9/6), jenderal yang tidak disebutkan namanya dikatakan sebagai korban terbaru Kim, yang diperkirakan telah membunuh 16 pembantu senior. Sang jenderal diduga dilempar ke tangki raksasa berisi piranha di dalam Ryongsong Residence milik Kim.

Dikatakan bahwa jendral itu dipotong lengan dan tubuhnya dengan pisau sebelum dilemparkan ke dalam tangki. Dilaporkan, ratusan piranha itu diimpor dari Brasil.

Namun, tidak jelas apakah sang jenderal dibunuh oleh ikan karnivora, meninggal karena luka-lukanya sebelumnya, atau malah tenggelam.

Ikan pemakan daging ini memiliki gigi setajam silet yang dapat merobek daging mayat dalam hitungan menit.

The Daily Star mengklaim pemimpin Korea Utara itu mungkin terinspirasi oleh film James Bond 1965 berjudul You Only Live Twice untuk melakukan metode eksekusi yang mengerikan.

Dalam film itu, tokoh penjahat Blofeld memiliki kolam penuh dengan piranha, yang ia gunakan untuk mengeksekusi asisten Helga Brandt.

Satu anggota pasukan intelijen Inggris mengatakan kepada Daily Star mengatakan penggunaan piranha adalah gaya klasik Kim. Dia menggunakan semua ketakutan dan teror sebagai alat politik.

“Apakah penggunaan piranha atau tidak adalah cara yang efisien untuk membunuh seseorang tidak akan mengganggunya. Dia ingin semua orang tahu, termasuk para pembantunya yang paling tepercaya, bahwa mereka berisiko menderita kematian yang sangat tidak menyenangkan jika dia curiga mereka pengkhianatan.

Menurut sang intelijen, Kim bahkan telah mengeksekusi anggota keluarganya sendiri dan membunuh pejabat senior pemerintah hanya karena tidak bertepuk tangan cukup keras dalam salah satu pidatonya.



Sumber: Suara Pembaruan