Hong Kong Tunda Pembahasan RUU Ekstradisi

Hong Kong Tunda Pembahasan RUU Ekstradisi
Demonstran kembali menggelar aksi unjuk rasa dan memblokir jalan-jalan utama Kota Hong Kong, untuk memprotes pembahasan Rancangan Undang-Undang Ekstradisi oleh Dewan Legislatif, pada Rabu (12/6). ( Foto: AFP / Anthony Wallace )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Rabu, 12 Juni 2019 | 15:39 WIB

Hong Kong, Beritasatu.com - Dewan Legislatif memutuskan menunda pembahasan tahap kedua Rancangan Undang-Undang (RUU) Ekstradisi, setelah ribuan warga kembali menggelar aksi demonstrasi hingga melumpuhkan jalan-jalan utama Kota Hong Kong, pada Rabu (12/6/2019).

Puluhan ribu demonstran Hong Kong kembali turun ke jalan dan berkumpul di sekitar gedung Dewan Legislatif sambil berusaha membongkar dan mendorong mundur barikade polisi sembari berteriak “tarik kembali, tarik kembali!”.

Menanggapi aksi protes besar-besaran itu, Dewan Legislatif menyatakan untuk menunda pembacaan kedua RUU tersebut, yang dijadwalkan dalam rapat pada hari ini. Pihak dewan yang pro-Beijing, mengatakan pertemuan yang rencananya dimulai pukul 11.00 waktu setempat telah ditunda dan para anggota akan diinfokan lebih lanjut.

Namun, meskipun besarnya penolakan terhadap RUU Ekstradisi, Dewan Legislatif tampaknya akan tetap mendorong RUU Ekstradisi. Voting terakhir dijadwalkan tanggal 20 Juni 2019 dengan perkiraan dewan akan meloloskan RUU tersebut.

Sejumlah besar polisi anti huru-hara telah dikerahkan untuk menahan demonstran dengan semprotan merica sambil memegang tanda-tanda peringatan, serta bersiap menggunakan kekuatan kepada kerumunan orang banyak tersebut.

Hong Kong juga lumpuh setelah ratusan usaha, orangtua, dan guru menyerukan boikot untuk pekerjaan dan kelas mereka demi menunjukkan pertentangan terhadap usulan RUU Ekstradisi. Kekhawatiran utama dalam RUU itu adalah Tiongkok dimungkinkan untuk mengejar buronan di kota bekas jajahan Inggris itu.

RUU Ekstradisi hari ini memasuki putaran kedua pembahasan oleh 70 anggota Dewan Legislatif. Ketua legislatif, Andrew Leung, mengatakan akan membatasi perdebatan RUU Ekstradisi sampai 61 jam.

Aksi demonstrasi terbaru ini dimulai sejak Selasa (11/6/2019) malam setelah petisi daring menyerukan agar 50.000 orang berkumpul mulai pukul 22.00 waktu setempat.

Para pengunjuk rasa bertahan sepanjang malam di luar gedung dewan legislatif di distrik Admiralty, namun otoritas menutup area protes dan lapangan rumput terdekat di Taman Tamar yang terletak di luar dewan legislatif karena beresiko tinggi untuk diserang demonstran.

Sebelumnya pada Minggu (9/6/2019), ribuan demonstran melakukan aksi unjuk rasa serupa yang berakhir ricuh pada Senin (10/6/2019) dini hari. Kericuhan dipicu oleh bentrokan antara polisi anti huru hara dan demonstran yang memaksa hendak masuk dan menduduki Gedung Dewan Legislatif.



Sumber: [BBC/The Guardian/Suara Pembaruan