ASEAN Didesak Larang Penuh Impor Sampah Plastik

ASEAN Didesak Larang Penuh Impor Sampah Plastik
Barang bukti impor sampah plastik mengandung bahan berbahaya di Pelabuhan Batu Ampar, Batam, Sabtu 15 Juni 2019. ( Foto: AFP PHOTO )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Jumat, 21 Juni 2019 | 21:11 WIB

Bangkok, Beritasatu.com- Aktivis lingkungan menyambut delegasi dari 10 negara ASEAN yang tiba di Bangkok, Thailand, Kamis (20/6), dengan tumpukan menggunung sampah plastik dan elektronik. Para pemimpin ASEAN didesak untuk menerapkan larangan sepenuhnya impor sampah plastik yang saat ini telah mengubah kawasannya menjadi tempat pembuangan sampah dunia.

Thailand selaku pemimpin ASEAN tahun ini, akan menggelar KTT ke-34 ASEAN pada 22-23 Juni 2019. KTT tersebut akan mengangkat tema “Advancing Partnership for Sustainability”(Memajukan Kemitraan untuk Keberlanjutan). Tapi, para aktivis hak-hak lingkungan menyatakan adanya penghapusan dalam agenda mereka.

“Kami cukup terkejut dan sedikit kecewa karena isu perdagangan limbah yang dihadapi kawasan ini tidak masuk dalam pembahasan,” kata Direktur Greenpeace Thailand, Tara Buakamsri.

Pemimpin ASEAN dituntut secepatnya melakukan larangan perdagangan lintas batas sampah elektronik berbahaya dan plastik, tanpa pengecualian. ASEAN harus berjuang mengatasi sampah plastik setelah Tiongkok memutuskan untuk menyetop impor sampah daur ulang dari luar negeri.

Negara-negara di ASEAN saat ini menerima lebih dari seperempat limbah plastik global, yang sebagian besar datang dari negara maju seperti Kanada, Amerika Serikat (AS), Australia, dan Jepang.

Sekitar 50 aktivis Thailand bergabung dalam aksi protes sambil memegang poster bertuliskan “Tidak Ada Ruang untuk Sampah”. “Masyarakat di sini hari ini untuk mendapatkan kembali, hak hidup dalam lingkungan berkelanjutan di Thailand,” ujar Buakamsri.

ASEAN berusaha membendung gelombang sampah plastik ke laut dan samudera di kawasan itu. Blok tersebut diharapkan mengadopsi Deklarasi Bangkok, kesepakatan pertama untuk mengatasi sampah di laut.



Sumber: Suara Pembaruan