15.000 Warga Papua Nugini Mengungsi Akibat 2 Gunung Api Meletus

15.000 Warga Papua Nugini Mengungsi Akibat 2 Gunung Api Meletus
Gunung Ulawun yang berada di timur laut pulau New Britain PNG, meletus secara tiba-tiba pada Rabu (26/6/2019), menembakkan kolom abu setinggi 18 kilometer ke udara. ( Foto: News.com.au / Dokumentasi )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Senin, 1 Juli 2019 | 21:05 WIB

Port Moresby, Beritasatu.com- Letusan dari dua gunung berapi di Papua Nugini (PNG) memaksa 15.000 penduduk di timur laut negara itu untuk mengungsi dari rumah mereka.

Gunung Ulawun yang berada di timur laut pulau New Britain PNG, meletus secara tiba-tiba pada Rabu (26/6), menembakkan kolom abu setinggi 18 kilometer ke udara, sedangkan di dekatnya, Gunung Manam, meletus pada Jumat (28/6), dan mengirimkan aliran piroklastik berbahaya ke lerengnya.

Tidak ada laporan korban jiwa, tapi letusan tersebut menghancurkan rumah, perkebunan, dan sumur, serta membuat para penduduk kesulitan memperoleh makanan dan air. Kolom abu akibat erupsi juga telah menganggu penerbangan dalam negeri.

Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), Minggu (30/6), menyatakan 3.775 orang telah melarikan diri dari letusan Gunung Manam dan 11.047 orang mengungsi dari letusan Gunung Ulawun dan tinggal di pusat-pusat penampungan.

Abu vulkanik menyelimuti kawasan itu dengan partikel-partikel kecil seperti kaca yang secara permanen bisa merusak paru-paru, serta membawa kepada sakit atau kematian.

Leo Mapmani dari Pusat Bencana Provinsi New Britain Barat menyatakan resiko kesehatan dari abu membuat orang-orang tidak bisa kembali ke rumahnya masing-masing. Debu vulkanik juga bisa merusak tanaman pangan jika tidak segera turun hujan.

“Jika berada di puncak bukit dan puncak pohon, dan angin meniupnya (debu), orang-orang akan menghirupnya,” kata Mapmani.

Penduduk di Kepulauan Manam, Jordan Sauba, mengatakan rumahnya telah hancur oleh debu dan batuan. “Kami tidak punya tempat untuk pergi sehingga kami ke bawah rumah dan bersembunyi di sana selama setidaknya delapan jam,” ujar Sauba.



Sumber: Suara Pembaruan