Hadapi Kekeringan Parah, PM India Serukan Konservasi Air

Hadapi Kekeringan Parah, PM India Serukan Konservasi Air
Pekerja India membawa sedikit air terakhir dari satu kolam kecil di waduk Puzhal yang kering di pinggiran Chennai. ( Foto: AFP / Arun Sankar )
Unggul Wirawan / WIR Senin, 1 Juli 2019 | 21:25 WIB

New Delhi, Beritasatu.com- Perdana Menteri India Narendra Modi pada Minggu (30/6), mendorong upaya konservasi air yang lebih luas di tengah kekhawatiran curah hujan yang lemah. Bencana kekeringan akan berdampak pada jutaan orang dan memukul produksi pertanian di ekonomi terbesar ketiga di Asia itu.

Musim hujan memasok sekitar 70% dari curah hujan tahunan India. Angin musim ini sangat penting untuk sektor pertanian karena lebih dari setengah dari daerah subur negara itu adalah wilayah tadah hujan. Bulan Juni lalu menjadi bulan terkering dalam lima tahun terakhir.

“Hanya 8% dari seluruh air hujan di India yang dilestarikan. Sekarang saatnya untuk menyelesaikan masalah ini,” kata Modi dalam siaran radio bulanan pertamanya setelah memenangi pemilihan ulang bulan lalu.

Menurut data dari Departemen Meteorologi setempat, India mendapat curah hujan 24% lebih sedikit daripada rata-rata 50 tahun dalam minggu yang berakhir pada 26 Juni. Dikatakan, hanya sedikit curah hujan di wilayah tengah dan barat India.

Momok krisis air tahun ini terjadi setelah kekeringan di beberapa bagian India pada tahun 2018 yang menghancurkan tanaman pangan, kawanan ternak mati, dan waduk yang kering kerontang. Krisis membuat beberapa kota dan industri kekurangan air.

“Tidak ada satu formula untuk menangani krisis air di seluruh negeri,” kata Modi, seraya menambahkan bahwa ia telah menyurati kepada sejumlah kepala desa di seluruh negeri tentang perlunya menghemat air awal bulan ini.



Sumber: Suara Pembaruan