Tiongkok Desak AS Batalkan Penjualan Senjata ke Taiwan

Tiongkok Desak AS Batalkan Penjualan Senjata ke Taiwan
Tentara taiwan menggelar latihan perang. ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Rabu, 10 Juli 2019 | 19:27 WIB

Beijing, Beritasatu.com- Tiongkok mendesak Amerika Serikat (AS) untuk segera membatalkan penjualan senjata ke Taiwan dan memutuskan hubungan militer dengan pulau itu. Pernyataan itu dilontarkan juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Geng Shuang pada Selasa (8/7).

“Tiongkok mendesak Amerika Serikat untuk menghormati komitmennya terhadap prinsip satu-Tiongkok dan tiga komunike bersama Tiongkok-AS, segera menarik penjualan senjata ke dan memutuskan hubungan militer dengan Taiwan untuk menghindari kerusakan lebih lanjut pada hubungan bilateral dan perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan,” kata Geng Shuang.

Geng membuat komentar sebagai tanggapan atas rencana penjualan senjata senilai US$ 2,2 miliar (sekitar Rp 31,1 triliun) ke Taiwan, termasuk tank M1A2 Abrams dan rudal anti-pesawat Stinger.

Kementerian luar negeri Tiongkok menyatakan kemarahannya atas penjualan tersebut dan mendesak Amerika Serikat untuk mencabutnya. Waktunya sangat sensitif ketika Washington dan Beijing berusaha menyelesaikan perang perdagangan yang pahit.

“Tiongkok sangat tidak puas dan dengan tegas menentang hal ini dan telah membuat pernyataan tegas kepada pihak AS. Taiwan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari wilayah Tiongkok dan tidak seorang pun harus meremehkan tekad pemerintah Tiongkok dan rakyat untuk mempertahankan kedaulatan dan integritas wilayah negara itu dan menentang campur tangan asing," kata Geng.

Badan Kerja Sama Keamanan Pertahanan Pentagon menyatakan penjualan senjata yang diminta oleh Taiwan, termasuk 108 General Dynamics Corp (GD.N) tank Abrams M1A2T dan 250 rudal Stinger, tidak akan mengubah keseimbangan militer dasar di wilayah tersebut.

AS adalah pemasok senjata utama ke Taiwan, yang dianggap sebagai provinsi patuh oleh Tiongkok. Beijing tidak pernah segan menggunakan kekuatan untuk membuat Taiwan di bawah kendalinya.

 



Sumber: Suara Pembaruan