India Serahkan 250 Rumah untuk Warga Rohingya

India Serahkan 250 Rumah untuk Warga Rohingya
Duta Besar India untuk Myanmar, Saurabh Kumar menyerahkan 250 rumah pra-fabrikasi untuk digunakan kembali dari Bangladesh ke Negara Bagian Rakhine, Myanmar, Kamis (11/7/2019). ( Foto: Facebook / Kementerian Informasi Myanmar )
Jeanny Aipassa / WIR Jumat, 12 Juli 2019 | 17:50 WIB

Rakhine, Beritasatu.com- Pemerintah India menyerahkan 250 rumah prefabrikasi yang dibangun di Provinsi Rakhine, Myanmar, untuk membantu pembangunan kembali permukiman warga Rohingya yang hancur saat operasi militer Myanmar pada 2017.

“Rumah-rumah untuk warga Rohigya yang diserahkan kepada pihak berwenang Myanmar awal pekan ini, berada di desa Shwe Zar, Kyein Chaung Taung, dan Nant Thar Taung,” kata seorang pejabat India yang menolak disebut identitasnya, Kamis (11/7).

Menurut dia, penyerahan rumah tersebut, merupakan bagian dari bantuan India untuk pemulangan kembali (repatriasi) warga Rohingya yang mengungsi ke Bangladesh dan negara-negara tetangga lainnya, karena konflik di Provinsi Rakhine.

Seperti diketahui, operasi militer Myanmar di Provinsi Rakhine pada 2017, telah memaksa 730.000 warga etnis Rohingya melarikan diri ke Bangladesh. Mereka tinggal di kamp-kamp yang kotor dan merasa takut mendapat penganiayaan lagi jika mereka kembali ke Rakhine.

Namun desakan internasional memaksa Myanmar untuk menerima kembali warga Rohingya yang telah mengungsi ke Bangladesh dan negara-negara tetangga lainnya.

Myanmar telah bersedia menerima warga etnis Rohingya dengan sejumlah syarat, antara lain untuk yang memiliki indentitas kependudukan.

Sejumlah lembaga internasional juga negara pendonor memberikan bantuan untuk proses repatriasi. Pemerintah India melaporkan bahwa Pemerintah Myanmar telah memberi daftar 21 proyek pembangunan di Provinsi Rakhine, baik rumah penduduk, sekolah maupun pasar.

Tetapi seorang pejabat India mengatakan syarat-syarat harus dibuat untuk kembalinya Rohingya dan India telah memulai rencana pengembangan rumah dengan nilai mencapau US$ 25 juta atau sekitar Rp 352 miliar.



Sumber: Suara Pembaruan