Demonstran dan Polisi Hong Kong Bentrok di Mal

Demonstran dan Polisi Hong Kong Bentrok di Mal
Aparat keamanan terlibat bentrok dengan demonstran di dalam pusat perbelanjaan di Sha Tin, Hong Kong, Minggu (14/7). ( Foto: AP / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Senin, 15 Juli 2019 | 20:55 WIB

Hong Kong, Beritasatu.com- Polisi anti-huru hara dan pengunjuk rasa terlibat bentrokan di satu pusat perbelanjaan Hong Kong pada Minggu (14/7) malam. Kerusuhan dipicu penolakan rencana undang-undang ekstradisi Hong Kong tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.

Polisi menggunakan semprotan merica dan pentungan terhadap kelompok-kelompok kecil pengunjuk rasa. Sebaliknya, para demonstran merespons dengan lemparan botol dan proyektil lainnya, dalam malam kekerasan baru di pusat internasional.

Bentrokan hari Minggu (14/7) terjadi pada akhir unjuk rasa besar lainnya. Kali ini bentrokan terjadi di Sha Tin, satu distrik yang terletak di antara bentangan perkotaan utama di sekitar pelabuhan dan perbatasan Tiongkok.

Kekerasan pecah pada sore hari setelah demonstrasi ketika para pengunjuk rasa merebut persimpangan jalan dan membangun barikade. Aksi demonstran itu menyebabkan pertikaian selama berjam-jam dengan polisi anti-huru hara.

Tetapi bentrokan terburuk pecah pada malam hari di dalam pusat perbelanjaan tempat ratusan pemrotes melarikan diri setelah polisi merangsek ke barikade. Aparat lalu kemudian menyerbu ke kompleks perbelanjaan. Begitu polisi masuk, kekacauan meletus ketika polisi mendapati diri mereka dilempari dari atas.

Setidaknya satu petugas terlihat pingsan dan ada bercak darah di lantai mal. Polisi dengan perisai dan pentungan melakukan beberapa penangkapan di satu gedung yang dipenuhi dengan toko-toko fashion mewah.

Pada Minggu malam, Pemerintah Hong Kong menyatakan pihaknya "sangat mengutuk tindakan ilegal para pemrotes, karena jalan-jalan diblokade dan para petugas diserang.

Puluhan ribu orang berkonvoi melintasi kawasan Sha Tin pada Minggu (14/7), atau minggu kelima berturut-turut demonstrasi Hong Kong. Hampir semua telah berakhir dengan kekerasan antara polisi dan minoritas pengunjuk rasa keras.



Sumber: Suara Pembaruan