Protes Makin Panas, Sekretaris Kehakiman Hong Kong Bertolak ke RRT

Protes Makin Panas, Sekretaris Kehakiman Hong Kong Bertolak ke RRT
Aparat keamanan terlibat bentrok dengan demonstran di dalam pusat perbelanjaan di Sha Tin, Hong Kong, Minggu (14/7). ( Foto: AP / Dokumentasi )
Natasia Christy Wahyuni / HA Selasa, 16 Juli 2019 | 21:13 WIB

Hong Kong - Sekretaris Kehakiman Hong Kong, Teresa Cheng, akan bertolak ke Beijing hari Rabu (17/7/2019) di tengah aksi protes massa yang semakin memanas pada akhir pekan lalu.

Kunjungan Cheng ke daratan Tiongkok dilakukan setelah aksi protes damai pada Minggu (14/7/2019) berakhir ricuh sehingga membuat setidaknya 28 orang terluka, termasuk 11 polisi yang dua di antaranya dikabarkan kehilangan jari karena digigit oleh demonstran.

Pemimpin Hong Kong Carrie Lam menyatakan Rancangan Undang-Undang (RUU) Ekstradisi “telah mati”, tetapi demonstran masih belum menyerah sampai ada penarikan sepenuhnya dan mendesak agar para pejabat termasuk Lam dan Cheng untuk mengundurkan diri. RUU Ekstradisi dianggap mengancam kebebasan masyarakat di kota semi-otonomi itu.

Sementara itu, para pedagang di Hong Kong memperkirakan penjualan mereka pada Juli dan Agustus turun dua digit dari tahun sebelumnya karena aksi protes besar dan kadang kala diwarnai kekerasan selama lebih dari satu bulan.

Asosiasi Manajemen Retail Hong Kong, lewat pernyataan yang dikeluarkan hari Selasa (16/7), secara tajam mengubah perkiraan penjualan retail setahun penuh menjadi anjlok dua digit, bukannya naik satu digit. Organisasi itu juga mendesak pemerintah agar menyelesaikan perselisihan atas RUU Ekstradisi secara damai.

Jutaan warga Hong Kong turun ke jalanan sepanjang bulan lalu untuk memprotes RUU yang salah satunya mengizinkan pengiriman orang ke Tiongkok untuk dibawa ke pengadilan yang dikontrol oleh Partai Komunis.

Pernyataan asosiasi retail Hong Kong disampaikan setelah aksi protes yang berakhir rusuh di pusat perbelanjaan mewah di Sha Tin, kawasan Teritori Baru sebelah utara Hong Kong, Minggu. Sekelompok demonstran didominasi oleh anak-anak muda, melemparkan payung dan botol-botol plastik ke arah polisi yang membalas mereka dengan menembakkan semprotan merica dan mengayunkan tongkat.

Industri retail Hong Kong khawatir bahwa insiden tersebut akan memukul citra internasional Hong Kong sebagai kota yang aman dengan makanan enak dan “surga belanja”.

Pada Juni lalu, auditor internasional PwC meralat perkiraan penjualan setahun penuh Hong Kong menjadi anjlok 5% dari sebelumnya 3%. PwC juga menyatakan kerusuhan politik dan sosial baru-baru ini, ditambah kurangnya tempat wisata baru, akan menurunkan selera wisatawan untuk mengunjungi Hong Kong dalam jangka pendek.

Pada Senin (15/7), pemimpin Hong Kong, Lam, mengecam demonstran dengan menyebutnya sebagai “para perusuh” setelah aksi massa hari Minggu. Lam menyatakan dukungan kepada polisi untuk menegakkan hukum dan mencari para pelaku.



Sumber: Reuters