Tampung 100 Peti Kemas Limbah Asal Inggris, Sri Lanka Perintahkan Pengembalian

Tampung 100 Peti Kemas Limbah Asal Inggris, Sri Lanka Perintahkan Pengembalian
Pejabat bea cukai memeriksa muatan satu peti kemas yang berisi limbah asal Inggris di pelabuhan Kolombo, Sri Lanka, Selasa (23/7/2019). ( Foto: AFP / Bea Cukai Sri Lanka )
Unggul Wirawan / WIR Kamis, 25 Juli 2019 | 19:50 WIB

Kolombo, Beritasatu.com- Bea Cukai Sri Lanka memerintahkan pengembalian ratusan muatan peti kemas limbah asal Inggris, Selasa (23/7). Limbah yang berasal dari kamar mayat yang berbahaya dan limbah klinis itu diimpor secara ilegal dari Inggris di bawah perlindungan daur ulang logam.

“Sebanyak 241 peti kemas telah diimpor sejak 2017 dan 130 peti kemas di antaranya telah dibawa ke zona perdagangan bebas untuk didaur ulang dan diekspor kembali. Beberapa bahan telah dilikuidasi dan memburuk hingga kami bahkan tidak bisa memeriksanya dan limbahnya mengeluarkan bau tak sedap,” keluh juru bicara kepabeanan Sunil Jayaratne.

Tetapi pada Rabu (24/7), Badan Lingkungan Hidup Inggris menyatakan pihaknya sedang menyelidiki apa yang telah terjadi. Namun pihak Inggris masih belum menerima permintaan resmi dari pihak berwenang Sri Lanka untuk pengembalian limbah.

Badan LH Inggris menyatakan hanya dapat memulangkan limbah jika dapat dibuktikan bahwa kiriman itu diekspor secara ilegal langsung dari Inggris; jika mereka yang mengekspornya tidak dapat diidentifikasi atau menolak untuk membawanya kembali; dan jika permintaan resmi dari otoritas asing yang dibuat.

Pejabat bea cukai Sri Lanka mengatakan paket kiriman yang berasal dari 2017 itu terungkap setelah pelabuhan Kolombo mengeluh pekan lalu bahwa seorang importir telah meninggalkan 111 peti kemas yang menimbulkan bau yang membusuk.

“Kami segera mengambil tindakan untuk memerintahkan ekspor kembali 111 kontainer yang ditinggalkan di pelabuhan. Sejumlah 130 lainnya yang sudah disingkirkan dari pelabuhan akan ditangani berdasarkan undang-undang lingkungan dan lainnya,” kata Jubir Bea Cukai Sri Lanka, Jayaratne.



Sumber: Suara Pembaruan