Kamboja Denda Pengimpor Sampah Plastik

Kamboja Denda Pengimpor Sampah Plastik
Satu peti kemas dibuka oleh pejabat di pelabuhan Sihanoukville di Kamboja, dan ditemukan mengandung sekitar 1.600 ton sampah plastik, Juli 2019. ( Foto: AFP / Kementerian Lingkungan Hidup Kamboja )
Unggul Wirawan / WIR Kamis, 1 Agustus 2019 | 10:03 WIB

Phnom Penh, Beritasatu.com- Kamboja mendenda perusahaan hingga US$ 254.000 (sekitar Rp 3,55 miliar) untuk pengiriman 1.600 ton limbah plastik dari Amerika Serikat (AS) dan Kanada. Pada Selasa (30/7), seorang pejabat mengatakan denda itu dijatuhkan ketika negara-negara Asia Tenggara menolak kiriman sampah.

Keputusan Tiongkok untuk melarang impor limbah plastik tahun lalu telah membuat peta daur ulang global ke dalam kekacauan karena peti kemas pengiriman yang diisi dengan sampah dialihkan ke sejumlah pelabuhan di wilayah tersebut.

Penemuan 83 peti kemas berisi plastik di pelabuhan Sihanoukville, Kamboja pada bulan ini memicu kemarahan. Para pejabat menegaskan Kamboja bukan tempat sampah.

Denda dari pemerintah Kamboja mewajibkan perusahaan yang bertanggung jawab - Industri Plastik Chungyuen untuk mengirim pengiriman kembali ke AS dan Kanada. Pengiriman kembali peti kemas itu paling telat dilakukan sampai 24 Agustus dan perusahaan harus membayar denda US$ 254.000.

“Perusahaan akan menghadapi tindakan lebih lanjut melalui pengadilan" jika tidak mematuhi pesanan dan membayar,” kata Kun Nhim, Direktur Jenderal Departemen kepabeanan Kamboja.

Kun Nhim tidak memberikan perincian tentang bagaimana mereka berakhir di Sihanoukville. Tujuh puluh peti kemas sampah berasal dari AS, sedangkan sisanya berasal dari Kanada.

“Bisa jadi mereka mengirimnya ke Kamboja sementara ketika mereka tidak dapat menemukan negara yang menerima limbah,” tambahnya.



Sumber: Suara Pembaruan