Gadis-gadis Vietnam Diculik untuk Perkawinan Paksa di Tiongkok

Gadis-gadis Vietnam Diculik untuk Perkawinan Paksa di Tiongkok
Gadis-gadis Vietnam yang diperdagangkan dimasukkan dalam daftar beserta foto dan keteragan identitas. ( Foto: CNA / Dokumentasi )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Rabu, 7 Agustus 2019 | 08:47 WIB

Hanoi, Beritasatu.com- Gadis-gadis muda Vietnam menjadi target perdagangan manusia dengan modus perkawinan paksa di Tiongkok. Para gadis, mulai dari usia termuda 13 tahun, telah menghilang dari desa-desa mereka yang terpencil secara cepat dan dikirimkan ke Tiongkok untuk dijual kembali sebagai pengantin.

Salah satunya Linh, seorang murid Sekolah Menengah Atas, menyebut awalnya mendapatkan undangan dari teman keluarganya untuk berkunjung ke distrik tetangga Muong Khuong.

Namun, “teman” tersebut ternyata seorang pembohong bajingan karena merupakan bagian dari cincin perdagangan manusia yang secara perlahan melakukan pendekatan selama satu tahun untuk berteman dengan remaja berusia 17 tahun itu. Saat perjalanan ke Muong Khuong, Linh diculik dan dibawa ke Tiongkok, tempat dia dipaksa menikah dengan orang asing.

“Jika Anda diperdagangkan, tentu saja Anda akan diperkosa. Mungkin setiap orang diperkosa. Saya menjadi istri di sini (Tiongkok). Di rumah itu, saya harus mematuhi setiap hal yang mereka katakan atau saya akan dipukul. Mereka akan memukul saya tanpa takut karena saya bukan orang Tiongkok,” kata Linh.

Lebih Banyak Laki-laki

Tingginya permintaan mempelai perempuan dari negara asing terutama disebabkan ketidakseimbangan gender di Tiongkok. Jumlah laki-laki saat ini lebih tinggi daripada perempuan, serta adanya tekanan budaya, dan mahar yang mahal untuk menikahi gadis dari negerinya sendiri telah memaksa banyak pria dari desa-desa miskin Tiongkok untuk melakukan tindakan ekstrem dengan menikahi gadis asing.

Kebijakan satu anak di Tiongkok yang diberlakukan mulai 1979, telah mencegah sekitar 400 juta kelahiran. Ditambah, preferensi umum dari keluarga Tionghoa untuk mempunyai keturunan laki-laki. Budaya itu membuat Tiongkok sebagai salah satu negara dengan ketidakseimbangan gender tertinggi, diperkirakan pada 2020 akan ada 55 juta laki-laki lebih banyak dari perempuan.

Tidak mengherankan jika beberapa laki-laki Tiongkok akhirnya mencari pengantin perempuan dari negara tetangga seperti Vietnam. Secara geografi, Vietnam dan Tiongkok saling berbagi perbatasan pegunungan yang panjang, sehingga memudahkkan para pedagang manusia untuk mengambil gadis-gadis dari desa dan memindahkan mereka melintasi perbatasan.

“Ada banyak uang dalam perdagangan manusia. Orang-orang yang menjual perempuan bisa membuka puluhan ribu dolar dalam sekali penjualan,” kata Michael Brosowski, yaitu pendiri lembaga kemanusiaan yang berbasis di Hanoi, Yayasan Anak-anak Naga Biru yang bekerja mengamankan para korban perdagangan manusia dari Vietnam.



Sumber: Suara Pembaruan