Dalam 6 Tahun, 3.000 WN Vietnam Diperdagangkan

Dalam 6 Tahun, 3.000 WN Vietnam Diperdagangkan
Para perempuan berangkat untuk berjualan di Kota Sapa, Vietnam dan menempuh bahaya ancaman penculikan dari para pedagang manusia. ( Foto: ABCNews / Zoe Osborne )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Rabu, 7 Agustus 2019 | 14:58 WIB

Hanoi, Beritasatu.com- Kementerian Keamanan Publik Vietnam menyatakan dalam kurun 2012-2017, lebih dari 3.000 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, telah diperdagangkan. Tapi, angka itu sifatnya resmi, sedangkan jumlah kasus yang tidak dilaporkan diyakini jauh lebih besar.

Direktur Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-bangsa (UNDP), Caitlin Wiesen, mengatakan Vietnam dikenal sebagai negara sumber untuk eksploitasi buruh, seksual, dan perkawinan paksa.

Kemiskinan di daerah-daerah terpencil, rendahnya angka pendidikan, dan minimnya pekerjaan telah menciptakan lingkungan dimana perempuan merasakan perlunya pergi dan bekerja. Beberapa kasus perdagangan manusia diimingi janji pekerjaan, tapi berakhir di tangan agen tidak bermoral.

Brosowski menjelaskan agen-agen atau para pedagang manusia ini bersedia menghabiskan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk mendekat para korbannya demi melakukan “penjualan”.

Dia mengatakan tidak ada profil khas pedagang manusia, bisa siapa saja mulai dari anak muda putus sekolah sampai perempuan lanjut usia yang menjual teh di pasar, bahkan rekan sesama remaja perempuan.

“Para pedagang bisa laki-laki, perempuan, mereka bisa berusia apa pun, sebagian besar, para pedagang manusia telah membangun hubungan dengan korban, beberapa diantaranya berbulan-bulan,” kata Brosowski.

Kepala Departemen Pencegahan Kejahatan Sosial Lao Cai, Tuong Long, mengatakan berita baiknya adalah rata-rata sekitar 100 korban berhasil kembali dari Tiongkok setiap tahun.

Namun, para korban sering kali sudah mengalami kekerasan seksual dan eksploitasi tenaga kerja.

“Dalam banyak kasus, para korban dipaksa masuk ke dalam prostitusi. Sebagai konsekuensi, sebagian besar korban yang kembali menderita akibat trauma psikologis,” kata Long.

 



Sumber: Suara Pembaruan