Untuk Program Senjata, Korut Curi US$ 2 Miliar dari Serangan Siber

Untuk Program Senjata, Korut Curi US$ 2 Miliar dari Serangan Siber
Foto dirilis dari Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) resmi Korea Utara pada 7 Agustus 2019 memperlihatkan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un (kanan) tersenyum setelah memantau demonstrasi peluncuran dua rudal taktis tipe baru yang dipandu di lokasi bagian barat negara itu dirahasiakan. ( Foto: AFP / KCNA VIA KNS )
Unggul Wirawan / WIR Kamis, 8 Agustus 2019 | 12:22 WIB

New York, Beritasatu.com-  Korea Utara (Korut) telah menghasilkan sekitar US$ 2 miliar (Rp 27,9 triliun) untuk senjata program pemusnah massal menggunakan serangan siber yang "meluas dan semakin canggih". Menurut laporan rahasia Amerika Serikat (AS) yang dilihat oleh Reuters pada Senin (5/8), serangan Korut bertujuan untuk mencuri dari bank dan pertukaran mata uang kripto.

“Pyongyang juga terus meningkatkan program nuklir dan misilnya meskipun tidak melakukan uji coba nuklir atau peluncuran ICBM (Intercontinental Ballistic Missile)," kata laporan pakar independen yang memantau kepatuhan selama enam tahun terakhir kepada komite sanksi Korut Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Misi Korut untuk PBB tidak menanggapi permintaan untuk mengomentari laporan tersebut, yang telah disampaikan kepada komite Dewan Keamanan PBB, pekan lalu.

Para ahli mengatakan Korut menggunakan ruang maya untuk melancarkan serangan yang semakin canggih untuk mencuri dana dari lembaga keuangan dan pertukaran mata uang kripto untuk menghasilkan pendapatan. Korut juga menggunakan ruang maya untuk mencuci uang yang dicuri.

“Aktor maya Republik Demokratik Rakyat Korea, banyak yang beroperasi di bawah arahan Biro Pengintaian, mengumpulkan uang untuk program WMD (senjata pemusnah massal), dengan total hasil hingga saat ini diperkirakan mencapai dua miliar dolar AS,” bunyi laporan itu.

Secara resmi, Korut dikenal sebagai Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK). Biro Umum Pengintaian adalah agen intelijen militer top Korea Utara.

Para ahli mengatakan mereka sedang menyelidiki "setidaknya 35 kasus yang dilaporkan atas ulah aktor-aktor DPRK yang menyerang lembaga keuangan, pertukaran mata uang kripto dan kegiatan penambangan yang dirancang untuk mendapatkan mata uang asing" di sekitar 17 negara.



Sumber: Suara Pembaruan