Setelah 622 Orang Meninggal, Filipina Nyatakan Darurat DBD

Setelah 622 Orang Meninggal, Filipina Nyatakan Darurat DBD
Seorang anak menangis setelah divaksinasi campak oleh Palang Merah Filipina di Baseco, daerah kumuh di Manila, Filipina. Wabah demam berdarah mengancam negara itu di tengah skandal vaksin anti-demam berdarah. ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Kamis, 8 Agustus 2019 | 12:28 WIB

Manila, Beritasatu.com- Otoritas Filipina menyatakan wabah demam berdarah saat kematian yang meningkat. Filipina telah menyatakan "wabah demam berdarah nasional" setelah setidaknya 622 orang kehilangan nyawa karena penyakit yang ditularkan nyamuk pada tahun 2019.

Hingga Selasa (6/8), Filipina tetap melarang vaksin DBD meskipun jumlah kasus telah melonjak 98% dari tahun sebelumnya menjadi 146.062 kasus dari 1 Januari hingga 20 Juli, menyebabkan 662 kasus kematian.

Menteri Kesehatan Francisco Duque mengatakan Manila masih melarang penjualan, impor, dan distribusi vaksin Dengvaxia pada Februari setelah kematian beberapa lusin anak-anak di antara lebih dari 700.000 orang yang mendapat suntikan pada tahun 2016 dan 2017 dalam kampanye imunisasi pemerintah.

Menurut departemen kesehatan Filipina, setidaknya 146.000 kasus tercatat dari Januari hingga 20 Juli - peningkatan 98% pada periode yang sama tahun lalu. Epidemi itu diumumkan sehingga para pejabat dapat mengidentifikasi daerah-daerah yang membutuhkan perhatian darurat.

Infeksi menyebabkan penyakit seperti flu, tetapi terkadang menjadi lebih parah. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), insiden global demam berdarah telah tumbuh secara dramatis dalam beberapa dekade terakhir.

Filipina juga pernah mengumumkan peringatan demam berdarah nasional pada awal bulan Juli.

"Adalah penting bahwa epidemi nasional dideklarasikan di daerah-daerah ini untuk mengidentifikasi di mana respons lokal diperlukan, dan untuk memungkinkan unit pemerintah lokal menggunakan Dana Respons Cepat mereka untuk mengatasi situasi epidemi," ujar Menteri Kesehatan Francisco Duque.



Sumber: Suara Pembaruan