Jokowi dan Mahathir Bahas Pendidikan Anak TKI

Jokowi dan Mahathir Bahas Pendidikan Anak TKI
Presiden Joko Widodo dan PM Malaysia Mahathir Muhammad ( Foto: Istimewa )
Natasia Christy Wahyuni / RSAT Jumat, 9 Agustus 2019 | 11:29 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Muhammad melakukan pertemuan tahunan di Kuala Lumpur, Jumat (9/8/2019). Ini juga menjadi kunjungan balasan Presiden Jokowi atas kedatangan PM Mahathir ke Indonesia setelah dilantik sebagai orang nomor satu Malaysia pada Juni 2018.

Selepas pertemuan bilateral, Jokowi dan Mahathir akan melakukan santap siang dan salat Jumat bersama. Dalam pertemuan bilateral, keduanya dijadwalkan membahas dua isu utama. Salah satunya adalah masalah pendidikan untuk anak-anak tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan jumlah WNI di Malaysia mencapai lebih dari dua juta orang. Keberadaan WNI dalam jumlah besar itu tentu diikuti sejumlah persoalan.

“Termasuk mengenai masalah pendidikan bagi anak-anak TKI kita,” kata Retno saat konferensi pers di Kuala Lumpur, Kamis (8/8/2019) malam, seperti dikutip dari siaran pers Sekretariat Kabinet RI, Jumat (9/8/2019).

Akses pendidikan bagi anak-anak TKI di Malaysia diberikan dalam bentuk sekolah informal bernama Community Learning Center (CLC). Pemerintah Malaysia sejauh ini membatasi warga negara asing untuk menempuh pendidikan di sekolah publik/negerinya.

Sementara isu kedua yang akan dibahas mengenai masalah kelapa sawit karena Indonesia dan Malaysia adalah produsen kelapa sawit yang besar. “Kalau digabungkan berarti paling besar di seluruh dunia dan banyak tantangan yang sedang dihadapi oleh kelapa sawit,” ujarnya.

Retno mengatakan kedua tokoh pemimpin itu memperlihatkan wajah Islam sebenarnya yaitu Islam yang damai dan toleran. Acara salat Jumat bersama dinilai semakin memperkokoh tali silaturahmi di antara kedua pemimpin tersebut.

Agenda yang disusun dalam pertemuan Jokowi dan Mahathir di Kuala Lumpur hampir sama dengan agenda saat kunjungan Mahathir ke Indonesia tahun lalu. Pertemuan keduanya di Indonesia juga diakhiri dengan salat Jumat bersama di Istana Bogor.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, yang ikut dalam konferensi pers bersama Menlu Retno, mengatakan PM Mahathir dalam kunjungannya ke Jakarta tahun 2018 menyatakan pentingnya memberikan hak layanan dasar pendidikan bagi anak-anak Indonesia.

“Isu yang sekarang kita usahakan nanti bisa diselesaikan dalam pembicaraan yaitu berdirinya sekolah-sekolah di wilayah Semenanjung berupa CLC yang belum bisa direalisasi,” kata Muhadjir.

Pemerintah Indonesia sudah membangun 200 CLC untuk anak-anak TKI di Sabah dan Sarawak. CLC di Sabah dan Sarawak tinggal dijalankan saja serta memikirkan untuk peningkatan kualitas dan kapasitas daya tampung. “Diharapkan kehadiran negara bukan hanya sampai wilayah terluar, tapi yang sangat luar, di luar batas negara Indonesia, bisa dilakukan dengan baik sebagai tanggung jawab negara,” kata Muhadjir.

Selepas kunjungan kerja di Malaysia, Jokowi akan langsung bertolak ke Singapura untuk menghadiri perayaan Hari Kemerdekaan Singapura. Undangan senada juga disampaikan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong kepada PM Mahathir dan Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah.

Undangan itu diberikan kepada ketiga pemimpin negara yang dianggap serumpun dengan Singapura. Di Singapura, Presiden Jokowi hanya mengikuti perayaan semata, tidak akan ada pembahasan atas isu apa pun.



Sumber: Suara Pembaruan