Priyanka Chopra Dituduh Munafik dan Dorong Perang Nuklir

Priyanka Chopra Dituduh Munafik dan Dorong Perang Nuklir
Priyanka Chopra ( Foto: AFP )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Selasa, 13 Agustus 2019 | 13:49 WIB

Los Angeles, Beritasatu.com- Aktris Priyanka Chopra dituduh sebagai seorang yang munafik dan telah mendorong perang nuklir karena pesannya di Twitter untuk mendukung angkatan bersenjata India di tengah meningkatnya ketegangan dengan Pakistan. Insiden itu, yang menjadi viral, terjadi saat acara kecantikan pada Sabtu (10/8) di kota Los Angeles, Amerika Serikat (AS).

Seorang peserta dalam acara itu, Ayesha Malik, menuduh Chopra, yang ditunjuk sebagai duta PBB tahun 2016, telah mendorong perang nuklir terhadap Pakistan.

“Agak sulit mendengar Anda berbicara tentang kemanusiaan karena sebagai tetangga Anda, seorang Pakistan, saya tahu bahwa Anda sedikit munafik karena Anda mengirimkan pesan Twitter pada 26 Februari (2019), 'Jai Hind' (Kemenangan India) bertagar Angkatan Bersenjata India,” kata Malik terlihat sedang memegang pengeras suara untuk menyampaikan pertanyaan kepada Chopra dalam video yang diunggahnya di Twitter pada Senin (12/8).

Malik mengatakan peristiwa itu terjadi saat dia bersama temannya sedang berjalan-jalan di acara tersebut dan mendengar pembicaraan Priyanka. Malik adalah warga AS yang merupakan keturunan Pakistan.

“Kami tidak ingin menontonnya (Chopra) dan tidak ingin terus di sana, tapi saya dengar dia mulai berbicara tentang bagaimana dia pendukung kemanusiaan. Dia katakan, kita harus mencitai tetangga kita dan saya hanya berpikir, hal itu sangat lucu diucapkan olehnya,” kata Malik kepada Al Jazeera, Senin.

Malik merujuk kepada pesan Twitter di akun resmi Chopra pada 26 Februari 2019 yang bertuliskan “Jai Hind”, artinya kemenangan untuk India. Pesan itu juga menyertakan tagar Angkatan Bersenjata India.

India dan Pakistan, tetangga dengan kekuatan nuklir, telah menjalani dua kali perang terkait Kashmir. Kawasan itu terus menjadi sumber ketegangan kedua negara sejak kemerdekaan India tahun 1947.

Sementara itu, Perdana Menteri (PM) Pakistan Imran Khan menyebut langkah India untuk mencabut status otonomi Jammu dan Kashmir sama dengan tindakan pemimpin Nazi, Adolf Hitler.

Wilayah Kashmir yang diduduki India samai saat ini masih terisolasi setelah pemerintah memutuskan komunikasi dan jaringan internet. Puluhan ribu tentara India juga dikerahkan untuk mengantisipasi perlawanan setelah penghapusan status otonomi.



Sumber: Suara Pembaruan