Perundingan AS-Taliban di Doha Alami Kebuntuan

Perundingan AS-Taliban di Doha Alami Kebuntuan
Mullah Abdul Manan Akhund. ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Selasa, 13 Agustus 2019 | 11:44 WIB

Doha, Beritasatu.com- Perundingan terakhir antara Taliban dan Amerika Serikat (AS) yang digelar di ibu kota Qatar, Doha, berakhir tanpa adanya kesepakatan damai untuk Afghanistan. Kedua pihak menyatakan akan berkonsultasi dengan para pemimpin mereka untuk langkah-langkah selanjutnya.

Perundingan putaran kedelapan, yang dimulai di Doha sejak 3 Agustus 2019, berfokuskan kepada detil-detil teknis dan berakhir pada Senin (12/8).

Tidak satu pun pihak yang menyampaikan detil dari hasil pembiaraan di Doha. Tapi, perwakilan AS, Zalmay Khalilzad, mengklaim pembicaraan mereka “produktif” dan juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, menggambarkan pembicaraan itu “panjang dan berguna”.

Kedua pihak telah membicarakan kesepakatan dengan kondisi pasukan AS akan menarik diri dari Afghanistan dan Taliban akan menjamin negara itu tidak lagi menjadi menjadi landasan luncur bagi serangan global. Tapi AS juga mendesak kesepakatan Taliban atas dua hal lainnya, yaitu pembagian kekuasaan dengan pemerintah Afghanistan yang didukung AS dan gencatan senjata.

Kesepakatan akan kedua hal itu akan memungkinkan Presiden AS Donald Trump mencapai tujuannya yang diluncurkan beberapa hari setelah serangan 11 September 2001 di AS. Perang di Afghanistan menjadi jalan buntu, dengan tidak ada satu pun pihak yang mampu mengalahkan pihak lain dan korban sipil meningkat.

Pemerintah Afghanistan tidak dilibatkan dalam pembicaraan itu. Taliban menolak mengakui atau berunding dengan mereka.

Taliban terlihat dalam posisi terkuat sejak invasi yang dipimpin AS telah menjatuhkan pemerintahan selama lima tahun pada 2001. AS dan NATO secara resmi mengakhiri misi pertermpuran mereka pada 2014, tapi sekitar 20.000 pasukan AS dan sekutunya masih berada di negara itu.



Sumber: Suara Pembaruan