Korsel Akhiri Kerja Sama Intelijen Jepang

Korsel Akhiri Kerja Sama Intelijen Jepang
Menteri Luar Negeri Jepang Taro Kono (kiri) mengadakan pertemuan dengan Duta Besar Korea Selatan untuk Jepang Nam Gwan-Pyo (kanan) di gedung kementerian luar negeri di Tokyo, Jepang, Jumat (19/7/2019). ( Foto: AFP / JIJI PRESS )
Unggul Wirawan / WIR Jumat, 23 Agustus 2019 | 21:50 WIB

Tokyo, Beritasatu.com- Jepang mengecam keras pembatalan sepihak kerja sama intelijen yang dilakukan Korea Selatan (Korsel). Tindakan Seoul yang mengakhiri pertukaran intelijen militer telah memicu reaksi kemarahan di Tokyo. Pertikaian antara kedua tetangga itu meningkat.

Kesepakatan yang dipersoalkan - Keamanan Umum dari Perjanjian Informasi Militer (GSOMIA) - akan berakhir pada 24 Agustus. memungkinkan kedua negara untuk berbagi informasi rahasia, khususnya tentang Korea Utara (Korut).

Seperti dilaporkan RT, Kamis (22/18), Menteri Luar Negeri Jepang Taro Kono mengatakan keputusan Korsel untuk tidak memperpanjang perjanjian, telah memberikan tanggapan yang sepenuhnya salah. Dia memperingatkan bahwa Seoul salah membaca lingkungan keamanan yang ada.

Tokyo juga memanggil duta besar Korsel untuk mengajukan protes resmi atas langkah tersebut, yang datang bersamaan karena kedua negara terkunci dalam pertikaian dagang yang pahit.

Jepang sebelumnya memindahkan tetangganya dari daftar putih mitra dagang, dengan alasan peraturan Korea Selatan yang diduga longgar, yang dilaporkan mengizinkan beberapa bahan sensitifnya “mendarat” di tangan Pyongyang.

Seoul membantah tuduhan itu dan pada gilirannya menurunkan status perdagangan Jepang. Seoul menuduh bahwa tindakan Tokyo sebenarnya diprovokasi oleh putusan pengadilan Korsel yang memungkinkan penduduk setempat untuk menuntut kompensasi dari perusahaan Jepang atas kerja paksa selama pendudukan kolonial.



Sumber: Suara Pembaruan