Megawati, Schroder, dan Hatoyama: Perdamaian Korea Bukan Hasil Akhir

Megawati, Schroder, dan Hatoyama: Perdamaian Korea Bukan Hasil Akhir
Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri berpidato di forum internasional DMZ untuk ekonomi damai terkait perdamaian dua Korea yang digelar di Lotte Hotel, Seoul, Korea Selatan, 29 Agustus 2019. ( Foto: Beritasatu / Markus Junianto Sihaloho )
Markus Junianto Sihaloho / FMB Kamis, 29 Agustus 2019 | 15:50 WIB

Seoul, Beritasatu.com - Presiden RI Kelima, Megawati Soekarnoputri, menyatakan perdamaian Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut) harus dilanjutkan dengan upaya lebih keras untuk menjaganya lewat kesepakatan-kesepakatan baru untuk kerja sama di berbagai wilayah kehidupan. Perjanjian kerja sama itu sebaiknya disepakati oleh kedua pihak sebagai saudara.

Berbicara dalam DMZ International Forum for Peace Economy di Lotte Hotel, Seoul, Kamis (29/8/2019), Megawati mengaku menitikkan air mata bahagia pada 27 April 2019. Sebab saat itu, pemimpin Korsel Moon Jae-In dan Pemimpin Korut Kim Jong-un bermufakat untuk menandatangani Deklarasi Panmunjom untuk Perdamaian, Kemakmuran dan Unifikasi Semenanjung Korea.

Baginya, saat itu sejarah baru telah ditorehkan, bukan hanya bagi dua negara, tetapi bagi peradaban bangsa Asia. Namun demikian, saat perdamaian tercapai, bukan berarti perjuangan berhenti.

"Perjuangan selanjutnya adalah mengkristalisasikan perdamaian sebagai alat untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup rakyat," kata Megawati.

Diapun mendorong agar kesepakatan lebih lanjut segera dibicarakan secara musyawarah dan mufakat. Dirinya sangat berharap, setelah perdamaian Semenanjung Korea tercapai, dapat segera tercapai pula sebuah kesepakatan baru, yang diikuti langkah-langkah konkret kerjasama antar dua negara.

"Di dalam sebuah kapasitas perdamaian yang sudah dimulai, sebaiknya diberi kesempatan antara pemimpin Korut dan Korsel, berdua sebagai saudara, melakukan pertemuan-pertemuan agar ini bisa dapat dirumuskan lebih baik," kata Megawati.

Baginya, kerja sama yang dilakukan bukan kerja sama ekonomi yang berwatak pragmatis sempit, tetapi kerja sama luas di berbagai bidang termasuk lingkungan hidup, pendidikan dan kebudayaan dalam kerangka industrialisasi di era digital.

Dirinya mengusulkan pula agar ada perumusan dan kesepakatan terkait strategi, kebijakan dan langkah-langkah untuk menyikapi permasalahan global. Seperti ancaman radikalisme yang menggunakan isu agama dan identitas, fundamentalisme pasar dan isu perang dagang, kejahatan keuangan, narkotika, HIV-AIDS, perlindungan terhadap perempuan dan anak dari kekerasan dan ancaman perdagangan manusia.

"Serta yang tak bisa kita lupakan saat ini adalah isu perubahan iklim dan pencemaran lingkungan," ujar Ketua Umum DPP PDI Perjuangan itu.

Kanselir ketujuh Jerman, Gerhard Schroder, yang juga jadi pembicara di ajang itu, mengaku negerinya juga pernah mengalami perpecahan seperti dialami Korea. Orang-orang Jerman sangat berharap agar pengalaman mereka ketika mempersatukan Jerman Barat dan Jerman Timur bisa membantu.

Menurut dia, perdamaian dan kehidupan bersama lebih lanjut bisa tercapai jika selalu ada keinginan bersama untuk berkomunikasi. Dalam konteks itu, dia berharap Korea Utara bisa tunduk kepada resolusi Dewan Keamanan PBB agar melakukan denuklirisasi. Diharapkannya juga agar Korut bersedia untuk selalu bicara di meja perundingan.

"Saya yakin, saat ini penting mengubah arah kita karena semua dunia mendambakan masa depan dunia damai dan berkenjanjutan. Sebagai anggota komunitas dunia, perlu bersama bergandengan tangan mengatasi tantangan global saat ini," ujar Schroder.

Pembicara lainnya, Perdana Menteri Jepang ke 60, Yukio Hatoyama, lebih banyak berbicara soal perlunya perbaikan hubungan antara Jepang dengan Korea ke depan. Diakuinya, Jepang memang perlu meminta maaf secara tulus atas perang di masa lalu. Sebab dengan itu, pembangunan hubungan ke depan akan lebih baik mengingat kedekatan wilayah Jepang ke Semenanjung Korea.

"Ini penting. Sebab bagi saya, kemajuan di Asia Timur akan sangat tergantu dengan hubungan Jepang dengan Korea," kata Yukio.



Sumber: BeritaSatu.com