Tiongkok Kerahkan Pasukan, Aktivis Muda Joshua Wong Ditangkap

Tiongkok Kerahkan Pasukan, Aktivis Muda Joshua Wong Ditangkap
Joshua Wong ( Foto: theaustralian / Dokumentasi )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Jumat, 30 Agustus 2019 | 20:14 WIB

Hong Kong, Beritasatu.com-  Tiongkok mengirimkan pasukan baru ke Hong Kong pada Kamis (29/8), saat demonstran merencanakan aksi unjuk rasa pada Jumat (30/9). Dalam perkembangan terbaru, aktivis muda demokrasi, Joshua Wong, dilaporkan ditangkap berselang beberapa jam setelah penahanan serupa seorang aktivis yang vokal di Bandara Hong Kong.

“Sekretaris jenderal kami Joshua Wong baru saja ditangkap pagi ini sekitar pukul 07.30. Dia didorong secara paksa ke satu minivan pribadi di jalanan pada siang hari. Pengacara kami sedang mengikuti kasus ini sekarang,” sebut pernyataan partai politiknya, Demosisto.

Sejauh ini, belum ada konfirmasi atas penangkapan Wang, dan polisi belum menanggapi panggilan telepon wartawan. Unjuk rasa kembali direncanakan di Hong Kong, memasuki bulan keempat.

Sementara itu, media pemerintah Tiongkok menampilkan gambar-gambar dan video konvoi dari kendaraan lapis baja dan satu kapal memasuki Hong Kong sebelum fajar, Kamis. Tiongkok mengklaim pengiriman militer itu hanya rotasi rutin tahunan dari pasukan udara, darat, dan maritimnya.

“Saya tidak percaya itu mengingat waktu yang sensitif saat ini, bahwa itu sesuatu yang rutin,” kata anggota parlemen pro-demokrasi Dennis Kwok terkait penambahan pasukan itu, seperti dikutip dari radio seetempat RTHK.

“Saya yakin ini adalah sikap yang disengaja oleh PLA (Tentara Pembebasan Rakyat atau militer Tiongkok), untuk memperingatkan warga Hong Kong bahwa mereka bisa dikerahkan,” tambah Kwok.

Pernyataan Tiongkok tentang rotasi pasukan pada dua tahun lalu juga menyebutkan bahwa jumlah tentara di Hong Kong tetap dipertahankan tanpa perubahan, meskipun tidak disebutkan dalam pengumuman tahun ini.

Tentara-tentara baru ini dipindahkan ke Hong Kong saat polisi melarang pengunjuk rasa untuk menggelar aksi besar di jalanan kota itu pada Sabtu (31/8), meskipun penyelenggara unjuk rasa berencana mengajukan banding.

Dua panitia penyelenggara aksi protes, termasuk Jimmy Sham dari Front Hak Asasi Manusia (CHRF), mengaku telah dipukuli oleh para pria yang memegang pemukul bisbol, parang, dan batang logam.

“Kami akan menjadi prajurit meskipun ada ancaman. Kami tidak ingin memberikan kesenangan pada orang-orang yang kejam ini,” ujar Bonnie Leung juga dari CHRF.



Sumber: Suara Pembaruan