Dampak Perang Dagang, Vietnam Paling Diuntungkan

Dampak Perang Dagang, Vietnam Paling Diuntungkan
Presiden AS Donald Trump memegang bendera Vietnam ketika Perdana Menteri Vietnam Nguyen Xuan Phuc mengibarkan bendera AS, saat pertemuan bilateral. ( Foto: AFP / SAUL LOEB )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Senin, 2 September 2019 | 11:57 WIB

Berdasarkan kenaikan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dari perdagangan, Nomura mencatat delapan negara yang mendapatkan keuntungan dari perang dagang AS-Tiongkok. Vietnam berada di posisi pertama.

Peringkat pertama dari penilaian Nomura, adalah Vietnam dengan keuntungan PDB dari perdagangan sebesar 7,9 persen. Produk-produk yang memicu keuntungan antara lain peralatan listrik untuk ponsel, suku cadang untuk kantor dan mesin otomatis pemroses data. Negara ini juga bisa mendapatkan kenaikan 5 persen dari total ekspor.

Peringkat kedua adalah Taiwan dengan keuntungan PDB dari perdagangan 2,1 persen. Produk-produk penghasil keuntungan antara lain peralatan listrik untuk ponsel dan suku cadang untuk kantor atau mesin otomatis pemroses data. Peringkat ketiga adalah Malaysia denagn nilai keuntungan PDB 1,5 persen. Produk yang menghasilkan keuntungan adalah semikonduktor dan gas alam. Peringkat keempat adalah Hong Kong dengan keuntungan PDB 1 persen dan produknya adalah emas.

Selanjutnya berturut-turut adalah Korea Selatan (keuntungan PDB: 0,8 persen), Singapura (keuntungan PDB: 0,7 persen), Thailand (keuntungan PDB: 0,5 persen), dan Filipina (keuntungan PDB: 0,1 persen).

Keuntungan perang dagang AS-Tiongkok setidaknya sudah dirasakan oleh dua perusahaan di Vietnam yang memproduksi sepeda listrik untuk Pedego, yaiitu perusahaan Amerika berbasis di California. Sekitar 80 persen suku cadang sepeda Pedego awalnya berasal dari Tiongkok, tapi sekarang tidak lagi.

“Sekarang, kami mungkin 70 persen di Vietnam, dan 30 persen di Taiwan,” kata salah satu pendiri dan kepala eksekutif Pedego, Don DiCostanzo.

Pada Februari 2018, DiCostanzo memutuskan untuk memindahkan produksi ke Vietnam karena ancaman tingginya tarif Uni Eropa (UE) atas barang-barang sepeda listrik buatan Tiongkok. Produksi di Vietnam dimulai tujuh bulan setelahnya, yaitu September 2018. Ini merupakan bulan yang sama saat pemerintah AS memerintahkan tarif pada produk-produk buatan Tiongkok termasuk sepeda listrik.

“Kami setelah itu dapat mempercepat produksi. Dan kami mulai memproduksi sepeda di Vietnam untuk negara ini (AS) pada September, tepat setelah tarif diberlakukan,” kata DiCostanzo.

Pindah ke Vietnam

Perusahaannya kemudian mengurangi seluruh produksi di Tiongkok dan memindahkannya ke Vietnam. Selanjutnya pada awal 2019, pabrik-pabrik di Vietnam memproduksi sepeda untuk Pedego. Namun, beberapa suku cadang masih berasal dari Tiongkok, sehingga DiCostanzo masih mencari negara-negara lain untuk mengalihkan produksinya. Otomatis saat ini, kebutuhan Pedego untuk suku cadang dari Tiongkok semakin lama menurun.

Negara di luar kawasan Asia yang juga diuntungkan atas perang dagang AS-Tiongkok adalah Meksiko. Perusahaan kamera berbasis di AS, GoPro memindahkan produksinya untuk AS dari Tiongkok ke Meksiko sejak Juni 2019. Namun, kamera-kamera GoPro untuk pasar lain selain AS tetap dibuat di Tiongkok.

“Kedua negara mendapatkkan keuntungan paling besar adalah Vietnam dan Meksiko. Dan setiap orang di sini melihat mereka dengan iri,”” kata Kepala Pusat untuk Ekonomi Kawasan di Institut Milken California, Kevin Klowden.

Biro Sensus AS melaporkan barang-barang impor dari Meksiko mengalami peningkatan lebih dari enam persen dalam enam bulan pertama tahun 2019, dibandingkan periode yang sama pada 2018. Senada dengan itu, impor dari Vietnam selama periode sama juga meningkat lebih dari 33 persen. Sedangkan, impor Tiongkok untuk periode yang sama turun sampai lebih dari 12 persen.



Sumber: Suara Pembaruan