Kedubes Korsel di Jepang Dapat Surat Ancaman dan Peluru

Kedubes Korsel di Jepang Dapat Surat Ancaman dan Peluru
Gedung Kedubes Korsel di Jepang. ( Foto: Tellerreport.com / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Rabu, 4 September 2019 | 09:52 WIB

Tokyo, Beritasatu.com- Kedutaan Besar Korea Selatan di Tokyo menerima surat ancaman disertai butiran peluru pada akhir bulan lalu. Pada Selasa (3/9), hal itu dikonfirmasi polisi Jepang.

Polisi yang bertanggung jawab atas penyelidikan mengatakan surat itu dikirim pada 27 Agustus ke kedutaan besar di distrik Minato di Tokyo tengah. Surat itu juga dialamatkan kepada mantan duta besar Lee Su-hoon.

Sumber-sumber investigasi mengatakan bahwa amplop itu berisi selembar kertas dan sebutir peluru. Ditulis di atas kertas, pengirim mengklaim memiliki senapan dan berencana untuk menargetkan orang-orang Korea Selatan.

Menurut penyiar publik Jepang NHK, pengirim surat juga menulis bahwa orang Korea Selatan harus meninggalkan Jepang.

Dalam insiden terpisah, polisi setempat mengatakan mereka menangkap seorang pria berusia 60-an pada hari Minggu. Dia diduga merusak kotak surat Kedutaan Korea Selatan dengan pukulan tinju.

Menurut polisi, pelaku juga mengirim surat kepada kedutaan pada saat itu memprotes pemerintah Korea Selatan.

Insiden itu terjadi ketika hubungan antara Jepang dan Korea Selatan merosot ke level terendah dalam beberapa waktu terakhir terkait kerja paksa masa perang selama pendudukan Jepang di Semenanjung Korea tahun 1910-1945.

Pengadilan tinggi Korea Selatan memerintahkan beberapa perusahaan besar Jepang untuk memberikan kompensasi kepada penggugat Korea Selatan.

Jepang mengklaim keputusan itu tidak sejalan dengan hukum internasional dan bertentangan dengan fondasi hubungan persahabatan serta kerja sama antara kedua negara tetangga sejak normalisasi hubungan diplomatik 1965.

Pertikaian itu telah menjalar ke dalam pertengkaran perdagangan yang sengit antara kedua negara. Bahkan pemerintah Korea Selatan juga memutuskan untuk membatalkan perjanjian berbagi intelijen militer dengan Jepang.



Sumber: Suara Pembaruan