Aktivis Hong Kong Desak Taiwan Ikut Demonstrasi

Aktivis Hong Kong Desak Taiwan Ikut Demonstrasi
Pengunjuk rasa membangun barikade di Bandara Internasional Hong Kong, Minggu (1/9/2019). Ratusan aktivis pro-demokrasi Hong Kong berusaha memblokir rute transportasi ke bandara kota. ( Foto: AFP / Lillian SUWANRUMPHA )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Rabu, 4 September 2019 | 19:42 WIB

Taipei, Beritasatu.com- Sejumlah aktivis Hong Kong termasuk Joshua Wong (22), mendesak Taiwan untuk membantu mendorong demokrasi di kota yang dikuasai Tiongkok itu di tengah krisis politik terburuk dalam beberapa dekade.

Taiwan juga didesak menggelar aksi massa sebelum peringatan 70 tahun berdirinya Partai Komunis Tiongkok pada 1 Oktober 2019.

Wong, selaku sekjen kelompok pro-demokrasi Demosisto, tiba di Taipei, Taiwan pada Selasa untuk serangkaian acara yang digelar oleh kelompok politik setempat. Dia juga bersama dengan oposisi Taiwan, Partai Kekuatan Baru.

Ratusan ribu orang telah menduduki jalanan di Hong Kong sejak pertengahan Juni yang kerap kali berujun gkepada kekerasan. Hong Kong yang merupakan bekas jajahan Inggris, dikembalikan ke Tiongkok pada 1997 di bawah formula “satu negara, dua sistem” untuk menjamin kebebasannya.

Tiongkok juga memberlakukan formula sama untuk Taiwan, sebagai provinsi yang dianggap memisahkan diri dan tidak patuh kepada Tiongkok.

“Kami berharap sebelum Hari Nasional Partai Komunis Tiongkok pada 1 Oktober, teman-teman kami di Taiwan bisa menyampaikan dukungan mereka untuk Hong Kong lewat aksi protes di jalanan,” kata Wong dalam konferensi pers di Taipei.

Beberapa aktivis Hong Kong khawatir otoritas Tiongkok akan menindak protes tersebut. Beijing sendiri mengklaim kedaulatan atas Taiwan sejak dua perang sipil terpisah pada 1940-an dan mengancam menggunakan kekuatan jika diperlukan, untuk mempersatukan kedua pihak.

“Kita berharap Hong Kong suatu hari seperti Taiwan, tempat dengan demokrasi dan kebebasan,” kata Wong.

Wong sempat ditangkap pekan lalu, namun dibebaskan lewat jaminan. Dia dituduh memicu dan berpartisipasi dalam perkumpulan tidak sah di luar markas polisi Hong Kong pada 21 Juni 2019.



Sumber: Suara Pembaruan