Bangladesh Blokir Internet di Kamp Rohingya

Bangladesh Blokir Internet di Kamp Rohingya
Pengungsi Rohingya menghadiri upacara yang diselenggarakan untuk mengingat ulang tahun kedua penumpasan militer yang mendorong eksodus besar-besaran orang dari Myanmar ke Bangladesh, di kamp pengungsi Kutupalong di Ukhia, Minggu (25/8/2019). ( Foto: AFP / MUNIR UZ ZAMAN )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Rabu, 4 September 2019 | 20:25 WIB

Dhaka, Beritasatu.com- Otoritas pengaturan telekomunikasi Bangladesh, Selasa (4/9), memerintahkan operator telepon seluler untuk memblokir sebagian layanan data berkecepatan tinggi ke wilayah kamp pengungsian warga Rohingya.

Langkah itu dilakukan menyusul lonjakan kekerasan kejahatan di distrik sebelah selatan Cox's Bazar yang menjadi tempat tinggal lebih dari satu juta warga Rohingya.

“Kami telah meminta operator untuk menghentikan layanan 3G dan 4G mulai pukul 17.00 sampai 06.00 di kamp Cox's Bazar,” kata juru biacara Komisi Pengaturan Telekomunikasi Bangladesh Zakir Hossain Khan.

Menurut Khan, keputusan itu dibuat karena alasan keamanan. “Mereka juga diminta untuk memberitahu kami pada 9 September 2019 terkait langkah yang akan diambil untuk menari SIM yang dipakai oleh masyarakat Rohingya dan mereka akan berhenti menjual SIM kepada mereka,” tambahnya merujuk kepada kartu SIM di telepon seluler.

Pada Minggu (1/9), operator diminta untuk memblokir layanan mobile dan berhenti menjual kartu-kartu SIM kepada Rohingya. Perintah untuk menghentikan layanan mobile telah dikeluarkan kembali setelah laporan adanya penjualan SIM oleh operator yang melanggar perintah pemerintah.

Lebih dari 730.000 warga Rohingya meninggalkan Rakhine State, Myanmar, menuju ke perbatasan Bangladesh setelah kekerasan militer pada Agustus 2017. Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyebut aksi militer Myanmar sebagai genosida, namun dibantah oleh negara itu.

Upaya untuk repatriasi (memulangkan kembali) 3.450 warga Rohingya telah mengalami kegagalan pada 22 Agustus 2019 karena tidak seorang pun setuju untuk kembali ke Rakhine State. Namun dengan ketidakpastian kembalinya mereka ke Myanmar, para pengungsi Rohingya di Bangladesh mulai tertarik kepada narkoba dan kejahatan.



Sumber: Suara Pembaruan