Resmi, Pemimpin Hong Kong Cabut RUU Ekstradisi

Resmi, Pemimpin Hong Kong Cabut RUU Ekstradisi
Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam (tengah) berbicara pada konferensi pers didampingi Kepala Sekretaris Administrasi Matthew Cheung (kiri) dan Sekretaris Dalam Negeri Lau Kong-wah (kanan) di Hong Kong, Kamis (5/9/2019), sehari setelah pengumuman pembatalan RUU ekstradisi. ( Foto: AFP / Philip FONG )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Kamis, 5 September 2019 | 11:33 WIB

Hong Kong, Beritasatu.com-Pemimpin Hong Kong Carrie Lam secara resmi mencabut sepenuhnya rancangan undang-undang (RUU) yang memungkinkan ekstradisi ke Tiongkok. Keputusan yang diumumkan lewat pidato di televisi, Rabu (4/9), mungkin bisa meredakan situasi politik Hong Kong, tapi tidak mengakhiri kerusuhan akibat demonstrasi massa di pusat keuangan Asia itu.

Pencabutan RUU, yakni satu dari lima tuntutan utama demonstran Hong Kong, menjadi titik balik dramatis untuk Lam yang berbulan-bulan menolak pencabutan resmi RUU tersebut.

Langkah itu diambil setelah pertemuan dengan para politisi pro-pembentukan termasuk anggota parlemen setempat dan perwakilan kota untuk badan legislatif nasional. Lam juga menjanjikan studi independen atas kinerja pemerintah dan memastikan kembali komitmennya untuk mengevaluasi tindakan pemerintah.

Namun, Lam menolak untuk untuk memenuhi empat tuntutan demonstran lainnya, seperti demokrasi lebih luas untuk kota itu dan komisi independen atas tindakan kepolisian, menyebut bahwa semua penyelidikan akan dilakukan oleh Dewan Independen Pengaduan Polisi (IPCC) yang sudah ada.

“Insiden selama dua bulan terakhir ini mengejutkan dan membuat sedih warga Hong Kong. Kita semua sangat cemas tentang Hong Kong, rumah kita. Kita semua berharap menemukan jalan keluar atas kebuntuan saat ini dan saat-saat meresahkan,” kata Lam lewat pernyataan video, Rabu malam.

Lam menyatakan kerusuhan sosial yang sudah berlangsung lebih dari dua bulan jelas menunjukkan ketidakpuasan jauh melampaui RUU. “Kita harus menemukan cara untuk mengatasi ketidakpuasan dalam masyarakat dan mencari solusi,” ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan