Akibat Perang Dagang, Banyak Perusahaan Hengkang dari Tiongkok

Akibat Perang Dagang, Banyak Perusahaan Hengkang dari Tiongkok
Data resmi yang dirilis Biro Statistik Nasional (NBS), pada Rabu, 1 Juni, memperlihatkan adanya peningkatan dalam aktivitas di pabrik-pabrik Tiongkok selama tiga bulan berturut-turun pada Mei. ( Foto: AFP Photo / Fred Dufour )
Faisal Maliki Baskoro / FMB Jumat, 6 September 2019 | 10:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Di tengah-tengah perang dagang antara AS dan Tiongkok, banyak perusahaan-perusahaan Asia yang merelokasi pabrik mereka ke luar Tiongkok untuk menghindari dampak kenaikan tarif impor.

Tren relokasi ini banyak terjadi di sektor permesinan dan elektronik yang didominasi perusahaan asal Taiwan dan Jepang. Menurut analisa Nomura, sebanyak 56 perusahaan melakukan relokasi pabrik.

Perang dagang AS-Tiongkok sudah berlangsung selama setahun lebih. AS menuduh Tiongkok melakukan pencurian kekayaan intelektual sehingga AS menaikkan tarif impor, yang kemudian dibalas oleh Tiongkok. Kedua belah pihak menaikkan tarif impor untuk produk-produk bernilai ratusan miliar dolar.

Taiwan menjadi salah satu negara yang diuntungkan dengan tren relokasi/reshoring ini. Menurut catatan Nomura sekitar 40 perusahaan berencana merelokasi pabrik mereka kembali ke Taiwan. Perusahaan-perusahaan ini memanfaatkan insentif pinjaman bunga rendah untuk menutupi biaya relokasi.

Beberapa perusahaan Taiwan yang berencana pulang kampung adalah produsen circuit board Flexium dan Quanta. Perusahaan pembuat cip terbesar kedua, SK Hynix, dari Korea Selatan juga berencana merelokasi sebagian fasilitas modul mereka kembali ke Korsel.

Mitsubishi Electric dari Jepanga memindahkan pabrik mereka dari Dalian di Tiongkok ke Nagoya, Jepang. Toshiba Machine dan Komatsu juga melakukan hal serupa.

Tiga sektor yang mendominasi tren relokasi adalah sektor elektronik, sektor pakaian jadi, sepatu dan tas, dan sektor peralatan listrik.

Dari Asia Tenggara, Vietnam dan Thailand juga menikmati efek samping perang dagang. Vietnam mampu menarik perusahaan dari sektor tekstil, sektor barang konsumsi, hingga elektronik. Di luar Asia, Meksiko juga menjadi negara tujuan perusahaan-perusahaan yang hendak merelokasi pabriknya.

Menurut riset Nomura, meski terjadi relokasi, kekuatan Tiongkok sebagai negara manufaktur tidak terlalu terdampak karena memiliki pasar domestik yang besar dan kemampuan memproduksi dalam kapasitas besar yang belum bisa tersaingi negara lain.



Sumber: CNBC