Kemiskinan Perburuk Krisis Sampah Plastik di Filipina

Kemiskinan Perburuk Krisis Sampah Plastik di Filipina
Setumpuk sampah berserakan, termasuk sampah plastik, tampak ketika anak-anak bermain di jembatan di pusat kota Manila, Filipina, Rabu (4/9/2019) ( Foto: AFP / George Calvelo )
Unggul Wirawan / WIR Sabtu, 7 September 2019 | 06:28 WIB

Manila, Beritasatu.com- Jauh di Pulau Freedom, Willer Gualva selalu berbekal sarung tangan, sepatu bot karet dan tongkat penggaruk. Pria berusia 68 tahun itu tak pernah mengerti bagaimana pantai pulau terpencil di Filipina itu kerap tertutup sampah plastik.

Willer Gualva telah dikenal sebagai “prajurit Bakau”. Dia sukarela datang ke Pulau Freedom untuk membersihkan sampah-sampah itu. Meskipun tak ada yang tinggal di pulau itu, setiap pagi, pantai pulau nyaris tertutup sampah. Sebagian besar berupa saset sampo, pasta gigi, deterjen dan kopi sekali pakai yang dibawa ke laut di tepi sungai di Manila yang penuh sesak.

“Kami mengumpulkan sebagian besar plastik di sini dan jenis nomor satu adalah saset,” kata Gualva, salah satu dari 17 orang yang dipekerjakan oleh badan lingkungan untuk membantu melestarikan pulau dan hutannya.

Badan itu, Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam (DENR), menyebut mereka "Pejuang Hutan Bakau", dan membayar mereka sedikit di atas US$ 8 (sekitar Rp 113.160) per hari.

Lima hari pembersihan pantai di pulau Teluk Manila pada bulan lalu menghasilkan total 16.000 kg sampah. Data DENR menunjukkan, sebagian besar sampah adalah plastik, termasuk saset yang terbuat dari aluminium dan campuran plastik.

Paket-paket ini memberi beberapa orang termiskin di Asia akses ke kebutuhan sehari-hari rumah tangga. Untuk perusahaan multinasional yang membuatnya, kemasan saset adalah cara untuk meningkatkan penjualan dengan menargetkan pelanggan yang tidak mampu membeli dalam jumlah yang lebih besar.

Saset tersebut dijual di sebagian besar negara berkembang tetapi jumlah yang dikonsumsi di Filipina sangat mengejutkan. Jumlah saset mencapai 163 juta lembar per hari, menurut satu studi baru-baru ini oleh kelompok lingkungan Aliansi Global untuk Insinerator Alternatif (GAIA). Itu berarti hampir 60 miliar saset setahun, atau cukup untuk mencakup 130.000 lapangan sepak bola.



Sumber: Suara Pembaruan