30.000 WN Malaysia Ajukan Suaka ke Australia

30.000 WN Malaysia Ajukan Suaka ke Australia
Ilustrasi paspor Malaysia ( Foto: FMT / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Minggu, 8 September 2019 | 21:51 WIB

Kuala Lumpur, Beritasatu.com- Komisioner Tinggi Australia untuk Malaysia menyambut baik pernyataan dari Kementerian Luar Negeri negara itu yang mengakui kekhawatiran Canberra terkait tingginya jumlah warga Malaysia yang mengajukan suaka di Australia.

Dalam wawancara dengan surat kabar The Malaysian Reserve pekan lalu, Komisioner Tinggi Andrew Goledzinowski menyatakan 33.000 warga Malaysia telah mengajukan suaka di Australia dalam beberapa tahun terakhir, namun sebagian besar dari mereka dinilai bukan pengungsi sesungguhnya.

“Banyak yang tinggal lebih lama (overstay) lalu mengajukan status pengungsi. Saat ini, kami mempunyai 33.000 warga Malaysia, bukan Suriah, bukan Rohingya, yang telah mengajukan permohonan sebagai pengungsi di Australia,” kata Goledzinowski.

“Mereka melakukan itu karena mereka tahu kita negara yang murah hati. Kami mengangap serius para pengungsi dan mereka berusaha menunda waktu untuk dipindahkan (dari Australia),” tambahnya.

Lebih dari 10.000 warga Malaysia diperkirakan berada di Australia secara tidak sah. Jumlah itu jauh lebih tinggi dari orang-orang yang berasal dari negara lain.

“Pemerintah tidak memberi toleransi kepada mereka yang berusaha mengambil keuntungan dari sistem visa kami,” kata juru bicara Pasukan Perbatasan Australia, yang tidak disebutkan namanya.

Bersama dengan warga dari Kanada, Jepang, Singapura, dan Amerika Serikat (AS), warga Malaysia adalah satu dari segelintir warga negara asing yang memenuhi syarat untuk mengajukan sistem Otoritas Perjalanan Elektronik Australia (ETA).

Sistem ETA mengizinkan warga asing mengajukan perjalanan jangka pendek ke Australia untuk tujuan pariwisata atau bisnis daring hanya dengan membayar 20 dolar Australia (Rp 193.000), tanpa harus mendatangi kedutaan atau komisi tinggi.

“Dari informasi yang kami dapatkan, sejumlah besar (pengaju suaka) disebabkan karena warga Malaysia mengambil keuntungan dari hukum imigrasi Australia yang memungkinkan mereka tinggal lebih lama dengan cara melanggar hukum,” sebut pernyataan Kementerian Luar Negeri Malaysia sebagai tanggapan terhadap wawancara dengan Goledzinowski.



Sumber: Suara Pembaruan