Khawatir Kabut Asap, Mahathir Akan Surati Jokowi

Khawatir Kabut Asap, Mahathir Akan Surati Jokowi
Menara Kembar Petronas di Kuala Lumpur, Malaysia, terlihat diselimuti kabut asap, pada 10 September 2019. Pemerintah Malaysia telah meliburkan ratusan sekolah karena khawatir dengan dampak kabut asap akibat kebakaran hutan. ( Foto: AFP / Mohd Rasfan )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Jumat, 13 September 2019 | 13:07 WIB

Kuala Lumpur, Beritasatu.com - Perdana Menteri (PM) Malaysia, Mahathir Mohamad, dikabarkan akan menyurati Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo, untuk menyampaikan keprihatinannya terkait kabut asap lintas batas dari kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan.

Pemerintah Indonesia melalui Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LKH), Siti Nurbaya, menampik klaim Malaysia bahwa kabut asap sepenuhnya berasal dari wilayah Indonesia.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatera dan Kalimantan sudah berlangsung lebih dari satu bulan. Pemerintah Indonesia telah mengirimkan ribuan pasukan keamanan untuk memadamkan api. Kebakaran tersebut biasanya disebabkan pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit atau pabrik pulp.

“Saya telah membicarakan dengan PM dan dia setuju mengirimkan surat ke Presiden Jokowi untuk menyampaikan perhatiannya terkait isu asap lintas-batas,” kata Menteri Lingkungan Malaysia, Yeo Bee Yin, di Kuala Lumpur, Kamis (12/9/2019).

Sebelumnya, Yeo membantah klaim Menteri KLH Siti Nurbaya bahwa Malaysia menyembunyikan fakta terkait situasi asap saat ini. Dalam akun Facebook, Rabu (11/9), dia menyatakan data secara jelas memperlihatkan kabut asap yang menyelimuti Malaysia berasal dari Indonesia. “Biarkan data berbicara sendiri,” kata Yeo.

Komentar itu, disampaikan Yeo setelah Siti menuding Malaysia tidak terbuka atas keseluruhan data bahwa masalah kabut asap di Malaysia juga berasal dari wilayah Malaysia sendiri seperti Serawak dan Semenanjung Malaya.

Yeo juga membantah klaim bahwa asap sedang bergerak dari Riau ke Singapura. “Kantor PM Mahathir sedang menyiapkan surat itu dan akan segera dikirimkan,” ujar Yeo.

Dia mengungkapkan, data Malaysia didapatkan dari Pusat Meteorologi Khusus ASEAN, yaitu kantor cuaca berbasis di Singapur, yang melacak titik-titik panas dari kebakaran hutan di kawasan.

Menurut Yeo, data tersebut menunjukkan hanya lima titik panas yang terdeteksi di Malaysia pada Kamis (12/9), dibandingkan dengan lebih dari 1.500 titik panas di Indonesia. “Data secara jelas menunjukkan asap berasal dari Indonesia,” katanya.

Peristiwa karhutla yang terjadi hampir setiap tahun, terutama di musim kemarau, membuat negara-negara tetangga Indonesia menjadi waspada dengan dampak kabut tebal yang memicu keprihatinan terkait kesehatan dan dampak kepada pariwisata.

Malaysia terpaksa harus menutup ratusan sekolah dan mengirimkan jutaan masker wajah ke negara bagiannya di Pulau Kalimantan, Sarawak, setelah asap masuk kategori tingkat tidak sehat. Pada Jumat (13/9), 29 sekolah di Selangor juga ditutup karena asap, berdampak kepada lebih dari 45.000 siswa.

“Pemerintah juga sedang menyiapkan pesawat untuk penyemaian awan dengan harapan bisa turun hujan,” ujar Yeo.



Sumber: Suara Pembaruan/Reuters/AFP/CNA